Review Drama It’s Okay to Not be Okay: Tentang Memaklumi Masa Lalu

Belakangan ini aku memiliki hobi baru yang cukup tidak lazim bagi kebanyakan cowok: nonton Drama Korea. Jujur saja aktivitas ini sangat menguras banyak hal dalam diri. Mulai dari waktu, emosional, hingga tenaga dan pikiran. Kenapa tidak, cerita yang disuguhkan sangatlah menawan, alur ceritanya susah ditebak, karakter tokoh yang kuat, wajah-wajah bintangnya yang luar biasa cantik, dan masih banyak lagi. Tidak seperti sinetron lokal yang mencapai ribuan episode tapi hanya bercerita tentang derita dan perselingkuhan yang minim moral.

Pada tahun 2020 yang lalu, aku menonton beberapa serial drama. Mulai dari Crash Landing on You, The World of Married, Start-up, dan yang terakhir It’s Okay to Not be Okay (ini yang terakhir kutonton). Kali ini aku akan fokus membahas drama It’s Okay to Not be Okay yang disutradarai Park Shin Woo dan Jo Yong sebagai penulis. Jujur saja kesan pertama yang aku dapatkan begitu melihat episode satu agak ‘ngeri’. Ini karena visual dan hawa yang dibangun sudah sangat cukup untuk membuat penonton merinding. Mungkin karena aku pengecut ya wkwk…

ko mun young

Gang Tae dan Ko Mung Young, first lead dalam drama (dok: Asianwiki)

Animasi 3D It’s Okay to Not Be Okay

Aku cukup penasaran sehingga tetap lanjut menonton meski dengan mata disipitkan. Drama ini dibuka dengan animasi kisah dongeng (fairytale) seorang perempuan yang tinggal di kastil mewah yang berada di tengah hutan. Ia tak memiliki dan tidak diizinkan untuk memiliki teman oleh sang ibu karena dia adalah anak ‘spesial’. Sejak kecil perempuan itu sudah ditanamkan jiwa anti-sosial dan psycho sehingga semua orang enggan bermain dengannya.

Ia bahkan melampiaskan kekesalannya dengan memancing, kemudian menyiksa hasil ikan tangkapannya sampai mati. Kemudian kailnya secara tidak sengaja menarik seorang anak lelaki yang tenggelam—tak sengaja menyelamatkannya. Anak itu pun terus mengikuti dan ingin bermain dengannya. Hingga akhirnya sisi gelap si perempuan kembali muncul, ia menyobek sayap kupu-kupu dan membuat si lelaki berlari ketakutan. Si anak perempuan pun tersenyum, kembali sendiri dan merasa kesepian. Kelanjutan cerita perempuan ini bisa kalian tonton sendiri ya.

animasi it's okay to not be okay

Sosok putri kastil dan anak lelaki yang mengikutinnya (dok: Pinterest)

Jalan Cerita yang Unik dan Kuat

Drama ini dibintangi oleh tiga tokoh utama, Moon Gang Tae (Kim Soo Hyun), seorang perawat di rumah sakit jiwa; Moon Kang Tae (Oh Jung Se) penderita Autism Spectrum Disorder yang juga merupakan saudara kandung Gang Tae; dan Ko Mung Young (Seo Ye Ji), seorang perempuan cantik, penulis dongeng terkenal, tapi berjiwa anti-sosial.

Baca Juga:  Bungkus atau Makan Di Sini, Mas?

Ko Mung Young, Moon Kang Tae, Moon Gang Tae dalam sesi pemotretan (dok: CNNIndonesia)

Film ini membahas topik yang kini sedang marak dan mulai mendapat perhatian di masyarakat kita, yaitu tentang Kesehatan mental. Tak heran bila kebanyakan scene dalam drama ini beralatar rumah sakit jiwa (RSJ). Para pasien dalam RSJ ini memiliki masa lalu yang kelam, penuh derita, penganiayaan, KDRT, dan hal lain yang membuat mereka stres, depresi, dan trauma akan hal-hal tertentu.

Sungguh isu yang sangat jarang mendapat perhatian, aku sendiri bisa dibilang pendatang baru pada topik ini. Dulu aku membayangkan bahwa rumah sakit jiwa adalah pure tempat yang menakutkan karena isinya orang gila semua. Namun, setelah menonton film ini, aku tersadar betapa mulianya profesi perawat di RSJ—Tentu tak kalah sulit dengan rumah sakit karena penyakit fisik. Bahkan bisa saja lebih sulit ditangani karena penyakit fisik bisa terlihat, tapi penyakit jiwa sangatlah abstrak dan sulit terprediksi.

Interaksi Tokoh It’s Okay to Not be Okay

Penonton pasti langsung jatuh cinta pada Gang Tae. Bagaimana tidak, selain berwajah gagah dan berutubuh atletis, ia juga sangat cekatan dalam menangani pasien. Keteletian, kesabaran, dan bagaimana ia menjaga para pasien membuatnya diidolakan dan paling populer di antara perawat yang lain. Bila ada pasien kabur atau mengamuk ia selalu berhasil menenangkan meski ia sendiri akan dipukuli, dicakar, atau bahkan dimuntahi. Kesabaran tentu merupakan hal paling wajib dimiliki para perawat di rumah sakit jiwa.

Di sisi lain, Gang Tae juga harus merawat kakaknya, Sang Tae, yang menderita autis sejak lahir. Jadi ketika berinteraksi, bersosialisasi dan melakukan kegiatan apapun sang adik yang selalu membimbingnya. Gang Tae harus ekstra sabar saat kakaknya tiba-tiba berteriak karena terpicu trauma, rela dipukuli ketika melakukan kesalahan sekecil apapun, dan tak pernah merasa malu karena kondisi kakaknya. Meski demikian, ia ingin sekali melawan dan meluapkan emosinya agar sang kakak tidak seperti bocah yang minta terus didampingi. Namun ia terus menahan emosinya, menyimpan keterpurukan semua orang di dalam dirinya sendiri.

Sementara itu, Ko Mun Young yang merupakan penulis dongeng terkenal diundang sebagai pembicara ke rumah sakit tempat Gang Tae bekerja. Di sinilah awal pertemuan mereka, sosok Gang Tae digambarkan bijaksana, disiplin, dan tegas. Sedangkan Mun Young tampak dingin, sadis, dan berkelakuan sembrono. Kesan pertamanya sangat buruk, Mun Young menaruh rokoknya yang masih menyala ke dalam minuman Gang Tae, namun lagi-lagi ia tetap sabar—sudah terbiasa mungkin.

Baca Juga:  Review Buku Alien itu Memilihku: Bertahanlah Walau Bagaimanapun Kondisinya

Kejadian tanpa dan memang disengaja terus mempertemukan mereka berdua. Gang Tae mulanya hanya menghindari Mun Young karena kelakuan buruknya. Namun Mun Young terus menggoda, mendekati, dan mencari segala hal tentang Gang Tae. Intinya si cewek yang agresif banget ngejer-ngejer si cowok. Sayangnya Gang Tae tidak bisa menghindar karena kakaknya sangat nge-fans pada penulis Ko Mun Young. Sang Tae membaca semua buku dongeng Mun Young. Itulah kenapa aku bisa bilang kalau tiga tokoh ini tidak bisa dipisahkan.

Namun seiring dengan interaksi yang semakin masif, Gang Tae menyadari bahwa Mun Young memiliki aura ‘menyembuhkan’. Pada akhirnya mereka menjalin asmara dan berkolaborasi dalam menangani pasien RSJ. Mereka saling menyembuhkan luka masing-masing dan orang di sekitarnya secara tidak disadari. Kehidupan di masa lalu dan latar belakang setiap tokoh pun terungkap satu demi satu. Seringkali cerita setiap orang juga mirip dan berkaitan dengan dongeng yang dibuat oleh Mun Young.

Bila berbicara tentang siapa tokoh antagonis dalam drama ini, aku akan menjawab tokoh antagonisnya adalah masa lalu dari setiap tokoh itu sendiri. Masa lalu merekalah yang menciptakan karakter mereka di masa kini. Rasa stres, depresi, trauma dan bagaimana mereka menjalani hidup. Ketiga tokoh utama dalam drama ini memiliki masa lalu yang saling terkait. Satu per satu puzzle ditemukan hingga semuanya terungkap. Pada akhirnya mereka sadar bahwa mereka sangat lemah, namun dengan bersama mereka bisa menjadi lebih kuat dalam menghadapi masa lalu yang kelam.

Kesimpulan tentang Drama Korea It’s Okay to Not be Okay

Drama ini sangat direkomendasikan untukmu yang menyukai genre romance dan thriller, yang dibalut dengan visual menakjubkan—animasi 3D, sketch art, motion graphic, dan transisi yang luar biasa. Selain itu soundtrack-nya juga bagus meskipun menurutku tidak begitu mencolok. Intinya kalau dari segi audio dan visual, drama ini paling juara di antara drama korea manapun yang pernah kutonton, sangat recommended.

Note: aku tim telat nonton, jadi telat review hehe

2 Replies to “Review Drama It’s Okay to Not be Okay: Tentang Memaklumi Masa Lalu”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *