Review Buku Alien itu Memilihku: Bertahanlah Walau Bagaimanapun Kondisinya

Pertama kali ngeliat buku ini di toko buku. Yang kabayang langsung makhluk luar angkasa sana, ALIEN. Tapi begitu ngeliat lebih lanjut “Kisah Nyata Indah Melati Setiawan Menghadapi Kanker Langka” langsung deh merinding. Ternyata kata alien adalah sebuah metafora tentang makhluk asing di dalam tubuh manusia bernama kanker. Kanker, penyakit yang terkenal ganas nggak ada obatnya. Vonis kematian, kemotrapi, dan hal-hal serba menyeramkan lainnya. Hmm Kalo diinget-inget aku nggak pernah sih baca buku genre kayak gini. So, aku bawa pulang nih buku.

Tentang Buku Alien Itu Memilihku

    • Judul : Alien Itu Memilihku
    • Penulis : Feby Indirani
    • Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
    • Jumlah : 301 halaman
    • Tahun : 2014
    • ISBN : 978-602-03-0541-7
    • Desain Sampul : Uwi Mathovani
    • Ilustrator : Matahari Indonesia
    • Desain Isi : Fajarianto

Kehidupan Indah-seorang wanita professional Jakarta yang aktif dan dinamis—tiba-tiba beruah 180 derajat. Paha kirinya membengkak dan semakin besar dari waktu ke waktu, seolah ada “alien” yang tumbuh dan bersarang di dalamnya. Kaki kirinya terancam diamputasi dari pangkal paha. Lebih dari itu, ancaman maut pun hadir persis di depan matanya.

Review Buku Alien itu Memilihku

buku alien itu memilihku

Buku ini terbagi dalam 33 bab termasuk prolog dan epilog. Aku langsung suka cara tuturnya yang mudah dimengerti dan bener-bener kayak diary. Jadi segela keluh kesah, suka duka, pesan kesan, dan semuanya dari tokoh aku terluapkan dari masing-masing bab. Mulai dari gejala awal yang dirasain, salah diagnosis dokter, pengobatan tradisional yang justru ngebuat makin sakit, operasi medis, bahkan sampai mau diamputasi.

Di sini si Indah terkena kanker bernama Ewing Sarcoma; salah satu jenis kanker tulang, yang biasanya sih diidap sama anak-anak, kek jarang gitu kalau ngena ke orang dewasa. Apalagi kayak Indah yang divonis pas di usia produktifnya di usia 30 tahunan. Ck! Enggak kebayang sih… Kalau mnurutku wajar jikaIndah pernah mau nyerah, hampir putus asa, bangkit lagi, jatuh, trus kayak gitu selama masa pengobatan. Fortunately, lingkungannya Indah juga mendukung banget sih, mama-nya, kakak adiknya, teman sesame pasien, sahabat-sahabatnya, trus juga pasien kanker lainnya. Mereka kayak jadi pemantuk semangat tiep kali Indah mau nyerah.

Dan yang nggak kalah berjasa sih, para tenaga medis, terutama dokter spesialisnya Dokter Suresh dan Dokter Alvin. Mereka yang selalu memberikan semangat, perhatian, bimbingan secara fisik maupun psikis sampe akhirnya Indah berhasil melalui tahapan yang sangat amat Panjang. MRI, kemotrapi, tes lab, bone scan, bone marrow, dan banyak banget istilah medis lainnya yang dipaparkan di sini. Jadi kayak wahh… kita jadi tahu (seenggaknya sekedar jadi tahulah), bahwa betapa banyak proses yang dilalui oleh penderita kanker. Selain itu wawasan tentang dunia kesehatan jadi nambah banyak abis baca buku ini.

Disela-sela itu, si Indah ini juga nyeritain tentang masa lalunya sebelum sakit. Dulu hidupnya itu kayak penuh warna dan menyenankan. Mulai dari kisah persahabatan, cinta, keluarga, hingga lifestyle-nya yang sebenarnya sangat sehat karena suka fitness. Impiannya buat traveling kemana-mana, menjadi wanita karier Jakarta, direggut dan terpaksa ditangguhkan. Tiba-tiba penyakit kanker ini merenggut semuanya, benar-benar dibalik 180 derajat.

Baca Juga:  Bungkus atau Makan Di Sini, Mas?

Pekerjaan, asmara, impian dan cita-citanya terenggut oleh makhluk asing bernama Ewing Sarcoma ini. Tapi akhirnya Indah berhasil melalui semua tahapan itu. Lambat laun dia akhirnya diremisi, gejalanya sudah hilang dan tidak seperti dulu lagi. “Saya sudah memasuki tiga tahun sejak operasi. Saya menjalani kemoterapi puluhan kali dan kondisi saya bagus. Saya dinyatakan remisi dari Ewing Sarcoma.” Wah itu sebuah keajaiban… Kata salah satu dokter yang baru ketemu sama Indah di buku ini. However, back again, yang namanya kanker, kita enggak tau sel-sel kankernya bakal hidup lagi apa enggak.

Jadi si Indah sudah bisa dikatakan sembuh tapi memang keadaanya sudah enggak kayak dulu lagi. Tapi Indah sudah punya kekuatan baru setelah melalui proses yang sangat panjang. “Saat kehilangan sesuatu, kita pasti mendapatkan sesuatu dalam bentuk dan cara yang berbeda yang mungkin tak pernah terbayangkan sebelumnya.” Bukan kecantikan, harta, atau sesuatu yang tampak saja yang bisa dibanggakan. Tetapi juga hati yang besar, rela berbagi, bersedekah, dan rasa syukur terhadap apa yang kita miliki. Bukan terus-terusan menangisi apa yang sudah pergi.

Buku ini sangat inspiratif. Benar-benar menjadi pengingat kita untuk selalu bersyukur tentang segala hal yang kita miliki (lebih tepatnya yang dititipkan pada kita). Terutama nikmat Kesehatan, karena ketika kamu sakit, tak ada yang lebih indah dari sembuh. Harta, kecantikan, popularitas atau apapun akan rela kamu tukarkan demi kesembuhan. Terimakasih Mba Indah Melati atas perjuangannya yang sangat luar biasa. Dan Mba Feby yang sudah ngemas cerita ini dengan sangat amat baik dan menyentuh lubuk.

Di laman akhir buku ini ada beberapa quotes perenungan, lini masa foto perjuangan Indah, serta kesan para sahabat hingga akhirnya indah dapat melenyapkan kanker langka ini. Meskipun bukunya sudah lama, aku sangat merekomendasikan buku Alien Itu Memilihku—agar kamu, aku, dan kita semua selalu bersyukur dan bersabar terhadap apapun yang menimpa hidup kita.

Quotes Buku Alien Itu Memilihku

Aku sebenarnya orang yang cukup hobi dalam mengumpulkan quotes dari buku yang kubaca atau film dan drama yang kutonton. Aku juga tidak memaknai ‘quote’ sebagai sesuatu yang harus indah dan mutiara, bagiku kalimat-kalimat yang menggetarkan jiwa juga bagian dari quote. Satu hal yang pasti, bahwa tidak selamanya quotes-quotes ini relevan dengan kehidupan semua orang. So, cukup cari dan jadikan quotes sebatas pemecut semangat dan sarana mengambil hikmah dari orang lain, sepakat? Without further do, mari kita gas.

ewing sarcoma

  1. Kanker adalah sel-selmu sendiri yang tiba-tiba berkembang liar, ganas, dan siap memangsamu. Sel-sel itu bisa dianggap sebagai bagian tubuhmu yang membelot, mengkhianatimu dan menjelma jadi makhluk asing yang tak terkendali.”
  2. Aku sungguh rindu bekerja lagi. Sesuatu yang dulunya pernah terasa rutin, menjemukan, dan tak jarang mengundang keluhan. Aku kangen bisa melakukan sesuatu yang bermakna dalam hidup. Aku bukan orang yang pintar, tapi di mana pun bekerja aku selalu menjadi andalan atasanku, karena kemampuan administrasi dan persuasi yang kumiliki.”
  3. Secara alamiah, aku senang membangun hubungan pertemanan dengan siapa saja. Aku senang membuka percakapan terlebih dulu dengan orang asing dan akhirnya menambah teman baru. Kalau giliran ada keperluar pekerjaan, aku biasanya memanfaatkan jaringan yang sudah kubangun ini.”
  4. Menerima kenyataan bahwa di usia produktifku malah menghabiskan waktu di rumah sakit, bukanlah perkara mudah.”
  5. Banyak teman di kala sehat menyenangkan, tapi punya teman di kala sakit itu jauh lebih terasa menyentuh. Di saat kondisiku tidak berdaya, sekadar pesan singkat dari teman atau saudara setidaknya mampu menjadi cahaya kecil menyinari hari-hari yang terasa mendung.”
  6. Menjadi tua adalah takdir dan bagian dari perjalanan manusia yang tidak bisa dihindari. Tapi kini aku memahami mengapa begitu banyak orang takut menjadi tua. Karena proses penuaan memang tidak bisa dikatakan indah secaa fisik. Malah sejujurnya mengerikan. Menyaksikan kulit yang halus dan kencang itu mengendur. Tubuh yang tegak jadi rapuh dan ringkih. Rambut yang berkilau jadi pucat. Tapi ada yang lebih mengerikan daripada menjadi tua, yaitu menjadi tua dan kesepian.
  7. Luar biasa memang peranan seorang dokter. Dia serupa perpanjangan tangan Tuhan untuk menjaga dan menyelamatkan kehidupan pasien. Aku tahu dokter memang salah satu profesi paling sulit di dunia. Tapi, tak pernah aku merasa sebegitu bergantungnya pada tangan dokter seperti saat ini.”
  8. Tahun baru kali ini, aku sudah bersyukur masih diberi kesempatan hidup. Tidak ada cita-cita yang muluk. Tidak ada resolusi tahun baru. Aku hanya ingin hidup. Dekat dengan kematian ternyata bisa membuat segala komplesitas dan kerumitan hidup menjadi lebih sederhana.”
  9. Setelah itu cerita mengalir begitu saja dari mulutku. Tanpa diatur, tanpa direncanakan. Aku hanya ingin bercerita, meluapkan semua kekesalan, kesedihan, kemuakanku. Pada penyakitku, pada rumah sakit, pada obat, jarum suntik, suster, dokter. Pada diriku. Pada segalanya.”
  10. Ketika kau sakit parah, akan terasa kecantikan fisik tidaklah sebegitu pentingnya, hingga layak ditebus dengan rasa sakit. Mungkin kau akan merasa kecantikan bahkan bukan prioritasmu lagi dan betapa konyolnya dulu kau mau melakukan segalanya untuk menjadi cantik.”
  11. Mungkin tak ada yang paling mahir mengajari manusia untuk berempati selain rasa sakit.”
  12. Aku senang telah berbagi pengalaman dan perjuanganku mengatasi kanker tulang, yang kuharapkan bisa menjadi teman bagimu yang sedang menghadapi saat-saat berat dalam hidup, apa pun situasinya. Aku hanya ingin mengatakan, ada terang di ujung terowongan gelap. Kadang dalam hidup, semua hanyalah tentang daya tahan. Jadi teruslah berjalan meskipun kita frustrasi dengan kegelapan yang seolah tidak berujung.”

Tidak ada kalimat panjang sebagai penutup dariku. Aku hanya berharap kamu, aku, dan kita semua tetap kuat menghadapi hidup yang luar biasa kejam ini. Yang pasti, jika dunia ini indah, ia akan indah pada waktunya. Stay strong, yah. 🙂

Baca Juga:  Review Buku You Do You: Panduan Hidup di Umur 20an

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *