Pulang Kampung dengan Kapal DLN Oasis Rute Surabaya-Lombok

Salah satu hal yang menyenangkan sekaligus melelahkan bagi para perantau adalah Ketika hendak pergi atau saat akan pulang. Dua hal ini harus dan memang ingin dilakukan, meski pasti akan lelah dalam perjalanan panjang. Salah satu hal yang belum kukapoki adalah menyeberangi laut dengan kapal. Yaiyalah dengan kapal, mau pake ban karet? Wkwk. Intinya perjalanan menggunakan kapal akan membuat banyak orang mengeluh karena waktu tempuh yang bisa dibilang 20 kali lipat lebih lambat dibandingkan dengan pesawat.

Oke oke, sebenarnya kita mau bahas apa sih? Jadi seperti yang sudah kalian lihat di judul. Kali ini aku mau cerita sedikit tentang perjalanan pulkam dan cerita tentang Kapal DLN Oasis. Satu dari tiga kapal berkapasitas ribuan, yang mengangkut penumpang dari Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya menuju Pelabuhan Lembar di Lombok atau pun sebaliknya. So so, without any further do, mari kita bahas. Ini dari pengalaman dan perspektifku ya.

Perjalanan Dari Malang Menuju Surabaya

Jadi pada tanggal belasan Januari 2020, aku dan teman kosku, Aji, hendak pulang kampung dari tanah rantauan di Malang. Kami sudah di sana sejak September 2019 dan mumpung libur Panjang ya pulanglah hehe. Perjalanan start kami adalah Malang dan finish di Tanjung Perak tentu saja. Waktu tempuh dari dua kota terbesar di Jawa Timur ini berkisar 2-4 jam, tergantung apakah kamu familiar dengan jalannya, apakah kamu akan lapar di tengah jalan, atau hal lain yang jadi penghambat, cuacanya misalnya.

jalan pasuruan

Foto oleh Agam Ray Waladi

Ya, waktu itu ketika kami baru saja keluar dari daerah Malang, tepatnya di daerah Pasuruan, hujan mengguyur deras. Kami yang tak membawa jas hujan terpaksa minggir ke emperan toko asing yang sedang tutup. Bersama kami, ada ojol dan beberapa pengendara lain. Mereka tampak terburu-buru kemudian memasang jas hujan. Sementara itu, aku dan Aji hanya bisa menunggu rintiknya mereda. Ya tak apalah menunggu, terjebak hujan terkadang menjadi sesuatu hal yang menyenangkan. Aku mengeluarkan kamera dan memotret apa yang bisa dipotret. Salah satunya perempuan tua berpayung yang berjalan menerobos derasnya hujan. Aku tak tahu dia membawa apa, yang jelas dia terabadi dalam kameraku, hehe. Tak sampai setengah jam menunggu, hujan berpamitan. Kami pun melanjutkan perjalanan.

Tiba di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya

Perjalanan panjang nan memenyokkan pantat akhirnya berakhir begitu kami sudah tiba di gerbang menuju Tanjung Perak. Setibanya di sana, kami langsung membeli tiket seharga 200an ribu rupiah untuk satu motor mio dan dua penumpang. FYI untuk pembelian tiket Kapal DLN Oasis tidak mengantri sama sekali. Aku sudah dua kali menaikinya, pertama dari Pelabuhan Lembar dan saat ini dari Pelabuhan Tanjung Perak. Mungkin karena tiketnya dibuka sepanjang hari ya. Jadi barangsiapa yang datang bisa langsung membeli.

Untuk mengisi kekosongan perut, kami ke Indomaret. Membeli air, roti, pop mie, dan onigiri (makanan yang tidak di jual di Indomaret Lombok) demi juga pemenuhan logistik selama perjalanan. Kami pun bersiap untuk menyambut Kapal DLN di ujung dermaga. Mungkin ada yang bertanya, kenapa tidak membeli makanan di atas kapal saja? biar nggak berat. Ya alasannya sederhana dan mungkin sebagian besar pembaca sudah dapat menebaknya: MAHAL. Air mineral ukuran 1,5 liter saja harganya mencapai 15 ribu. Lalu yang tanggung 8 ribu, trus belum mie, jajan, dan hal lain yang hmm… setinggi langitlah pokoknya.

Baca Juga:  Persiapan Sebelum Mendaki Gunung Rinjani (PART I)

Pelabuhan Tanjung Perak

Foto oleh Agam Ray Waladi

Hari sudah semakin gelap tatkala kapal semakin mendekat. Lamaaaa sekali kami menunggu si kapal untuk bersender. Belum lagi jam-jam ketika angkut muatan penumpang, belum isi bahan bakar, belum proses memarkirkan kembali kendaraan yang akan naik, belum nyari tempat, dan masih banyak belum-belum lainnya. Intinya menggunakan kapal itu melelahkan dan menguji kesabaran. Jika kamu naik pesawat dan mengeluh “lama”, maka kamu harus naik kapal! Ujian kesabarannya jauh lebih hebat di sini.

Kapal Berangkat Ketika Malam Sudah Sangat Larut

Tugas kita sebagai penumpang hanyalah menurut. Kapan pun nahkoda menjalankan kapal, maka saat itulah kita juga bergerak, ikut. Malam itu angin laut tidaklah terlalu kencang, namun hawa dinginnya benar-benar tidak ‘khas Surabaya’ yang relatif panas. Aku ingat betul kalau malam itu aku membuat sebuah tulisan di tengah kesunyian malam di salah satu sudut kapal. Ia tersimpan pada catatanku di Google Keep.

Sekitar pukul setengah sepuluh malam. Akhirnya kapal DLN Oasis berangkat meninggalkan Tanjung Perak. Langit tampak kemerahan tak berbintang, sesekali gumpalan awan hitam menyelimuti separuh angkasa. Namun tak jarang rembulan menerobos paksa sela-sela kabut dengan sinarnya.
Desir ombak saat itu belum begitu mengkhawatirkan, kapal dan perahu kecil juga masih tampak berseliweran. Meski demikian rasa cemas tak terhindarkan. Bekal keberanian takkan cukup bila tanpa pengalaman. Malam menggulita, menyihir mata untuk menutup cengkerama.

Mungkin karena sudah pernah menaikinya atau terbawa suasana kapal, aku sama sekali tidak memotret apapun malam itu. Aku hanya berharap perjalanan kali ini lancar hingga kami sampai di tujuan dengan selamat. Setelah bercengkarama dengan angin malam di balkon kapal, aku masuk ke ruangan VIP Kapal. Eits… Buat yang belum tahu nih, jadi di kapal DLN ini ada tiga ruangan. Pertama, ruang ekonomi yang isinya mungkin ratusan kursi empuk berjejer. Kedua, ruangan VIP (anggap saja) karena di dalamnya ada tempat tidur terbuka alias jejeran kasur. Cocok untuk rombongan atau keluarga gitu. Trus yang ketiga ada cafeteria—yang pada saat kedua kali aku menaiki kapal ini—sedang ada renovasi. Jadi tidak ditempati umum. Kalau dilihat dari luar sih, sepertinya akan dijadikan tempat tidur. Entahlah. Dimaklumi saja karena ini kapal baru ya guys, mungkin masih dinamis dan banyak perubahan yang terjadi.

Oh ya, hampir lupa. Jadi selain bersama Aji, aku juga bersama Emmy (temen satu kos juga). Tapi kami tidak berangkat bareng dari Malang, kami bertemu Ketika hendak menaiki kapal. Jadi Aji ini teman yang satu kelurahan dengan aku di kampung halaman (di Kota Pancor), sedangkan Emmy tinggal di Lombok Barat. Selama 20 jam ke depan, kami akan terus bersama diombang-ambing oleh ombak Pantai Utara Jawa-Bali, dan Selat Lombok. Oke, sembari menunggu kantuk, aku membaca buku berjudul, Seni Hidup Minimalis. Lain kali akan kuceritakan isinya di blog ini. Keren sih intinya.

Selamat Pagi Matahari, Perjalanan Masih Panjang

Pagi hari mulai menyapa, kalau menghitung waktu, estimasi perjalanan masih sepertiganya saja. Percayalah kalian, bahwa menengok matahari terbit di laut lepas itu benar-benar WOW. Tidak ada pengahalang sama sekali, yang terlihat hanya warna laut biru dan dipadu dengan kemuning-keorenan Mentari. Luar biasalah pokoknya. Aku sempat memotretnya dan mendapat beberapa siluet bersama Aji. Sayangnya, aku lupa menaruh file-nya di mana, mungkin sudah kuhapus karena kapasitas memori hehe. Yang jelas, aku sempat mengunggah fotonya di Instagramku, ini dia salah satunya.

Baca Juga:  Bukit Pergasingan Sembalun: Pemanasan Sebelum ke Rinjani?

Sunrise di DLN Oasis

sumber: instagram @agam_ray

Kalau lensanya difokuskan pada titik mentari, atau setidaknya kalian melihat sendiri view pagi itu tentu lebih wah lagi. Tapi sekarang setidaknya sudah mendapatkan gambaran tentang keindahannya kan, hehe. Kalau begitu, yuk saatnya sarapan dulu. Btw guys, Ketika membeli tiket di pelabuhan—sebenarnya ada dua opsi tiket. Pertama, hanya tiket perjalanan. Dan kedua adalah tiket perjalanan sekaligus makan. Jadi bisa langsung mem-booking nasi gitu. Harga perkotak nasi di sini 15 ribu saja. Relatif murah kah? Ya murah sih, tapi isinya pun seadanya. Kalo dibandingkan membeli di daratan, harganya mungkin setengahnya saja. Tapi aku aku nge-recommended kok untuk kalian yang nggak bisa mengganti nasi sebagai makanan pokok.

Kalau aku sih lebih prefer untuk makan popmie, tinggal minta diseduhin. Harga air panas 3 ribu aja kok. Kantinnya tersebar di setiap ruangan dan café, ada 3 atau 4 kantin gitu. Jadi jangan khawatir, minim ngantri kok, yang penting siepin uang aja hehe. Oiyya guys sebenarnya aku sudah pernah mereview kapal ini dalam bentuk Instagram Stories. Jadi kalau dirasa tulisan ini belum begitu menjelaskan, kalian bisa mampir dan klik highlight DLN Oasis. Di sana aku menjelaskan banyak hal disertai foto dan video. Kebetulan juga banyak pertanyaan karena aku menggunakan fitur Q&A.

Instagram Agam Ray Waladi

Foto oleh Agam Ray Waladi

Aku Pulang, Tanah Kelahiranku Sudah Tampak

Foto oleh Agam Ray Waladi

Hari sudah semakin petang saat kami tiba di Pelabuhan Lembar, Lombok. Begitu kapal bersandarpun kita masih harus menunggu beberapa jam untuk bongkar muatan. So, kami mengambil beberapa jepret foto untuk dijadikan kenangan, ehm. Bongkar muat dimulai dari lantai paling dasar, yaitu rombongan truk, puso, dan mobil. Setelah itu baru disusul oleh kendaraan roda dua. Kami keluar dari kapal saat mentari sudah lenyap. Perjalanan pulang akan memakan waktu satu setengah jam. Kami memilih jalur tengah, Mataram-Sikur karena merupakan jalan yang paling ramai dan aman. Untuk jam-jam malam begini cukup rawan bila melewati jalur sepi, meskipun jarak tempuh lebih dekat.

Malam itu hasrat untuk sampai di rumah sesegara mungkin sudah meluap. Kami yang tadinya berencana untuk sekadar mengisi perut di perjalanan memilih batal. Alhamdulillah-nya kami sampai dengan selamat. Sepertinya tak ada perubahan apa pun di kota ini, kota tempat tinggal kami. Mungkin terlalu gelap dan terkesan terburu-buru untuk menilai.  So, mari pulang, istirahat dan keliling kota di keesokan harinya.

sumber gambar: kataomed.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *