Persiapan Menghadapi Kesempatan yang Akan Datang

Sebentar lagi kita akan mengucapkan selamat tinggal pada 2020. Tahun yang sangat amat berbeda karena dunia sedang dilanda Pandemi Virus Corona (COVID-19 Disease). Manusia yang kodratnya merupakan makhluk sosial kini terpaksa ‘saling menjauhi’, menjaga jarak, dan bertamengkan masker. Ungkapan ‘bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh’ kini sudah terbalik dan mulai digantikan istilah baru, ‘bercerai kita teguh, bersatu kita runtuh’. Namun, saya sedikit tidak setuju dengan istilah baru itu, kenapa? Karena pada dasarnya kita hanya saling menjauhi secara fisik—demi mencegah penyebaran virus. Bukan saling menjauhi secara sosial—karena faktanya kita tetap butuh berinteraksi meski harus dengan protokol kesehatan atau via daring.

sumber: leagueoffire.com

Pada awal Desember 2020, aku mengadakan survey ‘ala-ala’ di instastory-ku, @agam_ray dengan pertanyaan, “Jika hidupmu di tahun 2020 dijadikan film, maka judulnya adalah?” kepada 900-an followers-ku. Responsnya cukup beragam, lucu, unik, dan sedikit ironic, hiks :'(. Ada yang bercerita tentang kebosanannya, tentang pesimismenya, jatuh bangun usahanya, pontang panting kehidupan hingga keputus asaannya. Namun, di sisi lain masih ada kok yang memandang pandemi ini dengan optimisme, kesabaran dan rasa syukur. 😊

Ilustrasi respons instastory-ku

Kita semua tentu tahu bahwa pandemi ini nyata dan benar-benar ada. Bila merujuk pada data, krisis ini benar-benar menghantui dunia. Tak perlu melebarkan pandangan ke negara atau benua lain! Negara kita, Indonesia saja sudah benar-benar terpuruk menghadapi krisis, terutama di tiga bidang paling esensial; Kesehatan, Pendidikan, dan ekonomi. Dari bidang kesehatan, Covid-19 pertanggal 17 Desember 2020 sudah tercatat 643.508 kasus. Dari bidang Pendidikan, sekolah dan universitas kita telah kehilangan akses belajar tatap muka sejak Maret 2020. Sedangkan dari segi ekonomi, negara kita sudah memasuki jurang resesi ekonomi. Note: dampaknya tentu tidak terbatas pada tiga bidang itu saja.

Lantas melihat kondisi dunia yang sedang tidak baik-baik saja, apakah kita boleh mengeluh? Hmm… nanti kita cerita tentang itu ya. Sebelumnya kamu harus tahu dulu nih ‘senjata’ untuk mengoptimalkan kehidupan.

TIGA KECERDASAN YANG HARUS DIOPTIMALKAN

  1. Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan spiritual adalah bagaimana seorang manusia mengembangkan jiwa kerohaniannya untuk mengamalkan nilai-nilai positif. Simpelnya jika kamu sudah mengoptimalkan kecerdasan ini maka kamu akan mudah dalam beradaptasi, menghadapi derita dan rasa sakit, serta menyadarkan kamu akan paham makna hidup yang sebenarnya. So, bagaiamana dengan permasalahan mengeluh tadi? menurutku sih mengeluh itu boleh. TAPI secukupnya saja ya, jangan terjebak terlalu lama atau berlarut-larut dalam kesedihan hingga keputusasaan. Kamu boleh kok curhat tentang masalahmu pada Tuhan, Ia akan selalu ada dan menemanimu dalam menghadapi setiap cobaan dan halang rintang ke depannya. Berdo’alah agar kamu dikuatkan dalam menghadapi rentetan musibah dan hal tidak menyenangkan di tahun ini. Jika hal-hal tadi sudah kau lakukan, percayalah bahwa jiwa raga, pikiran dan batinmu sudah lebih kuat dari sebelumnya (berdamailah dengan dirimu sendiri).

  1. Kecerdasan Intelektual

Kecerdasan Intelektual merupakan hal yang paling riil karena mencakup kemampuan berpikir, merencanakan sesuatu, memecahkan masalah, kecermatan dalam berbahasa, serta hal-hal kognisi lainnya. Di zaman kemajuan teknologi seperti saat sekarang ini, kamu bisa mengasah kecerdasan ini dengan leluasa. Misalnya dengan mengakses konten-konten edukatif seperti Blog Satu Persen, video pembelajaran di Youtube, platform edukasi (ex: Ruangguru, Pahamify, Zenius), dan lain sebagainya. So, apa masih mau mengeluh? Gais, di luar sana masih banyak orang yang tidak memiliki akses Pendidikan langsung di sekolah formal, alih-alih punya ponsel pintar, sekolah aja susah loh. Sekarang… masih mau mengeluh atau justru balik bersyukur? Tentukan pilihanmu.

  1. Kecerdasan Emosional

Kecerdasan Emosional adalah kecerdasan yang tak kalah esensial karena melibatkan kemampuan seseorang dalam menerima, menilai, mengelola, dan mengontrol emosinya. Lantas kenapa kecerdasan emosional dianggap begitu penting—bahkan ada yang menganggapnya lebih penting daripada kecerdasan intelektual? Hmm… Tentu kalau dilihat dari kacamata pendidikan kita sekarang cenderung lebih mementingkan kecerdasan intelektual (IQ) saja. Akibatnya para pelajar terlalu fokus pada akademik yang mana ilmunya belum tentu berguna saat menghadapi kehidupan yang sebenarnya.

Dikutip dari IDN Times, Howard Gardner, seorang ahli Psikologi Hardvard School of Education melakukan penelitian yang disebut Project Spectrum. Ia mengamati anak dengan sifat dan karakter yang berbeda saat mereka berumur empat tahun. Setelah ditemukan ternyata hasilnya anak dengan keterampilan sosial (kecerdasan emosional) memiliki keuntungan dalam setiap bidang kehidupan yahg menjadi kunci penting dalam meraih kesuksesan.

Dengan mengoptimalkan ketiga jenis kecerdasan tadi, maka peluang untuk bahagia dan menjadi sukses di masa mendatang akan semakin besar. Oke, dari tadi aku hanya bercerita tentang teori, teori, dan teori. Pasti kamu sudah bosan ya? Kali ini aku bakalan menceritakan pengalaman pribadiku dalam mengoptimalkan ketiga kecerdasan ini. Believe or not? It’s up to you. Move to the next section yah!

BAGAIMANA AKU MENINGKATKAN PRODUKTVITAS DAN MENGOPTIMALKAN KETIGA KECERDASAN ITU?

Oke setelah berteori panjang ada baiknya kita kembali ke pembahasan awal kita tadi, yaitu tentang tahun 2020. Jujur saja 2020 tidak semenyedihkan dan seburuk itu kok bagiku—justru di tahun ini aku belajar banyaaakkk banget hal-hal baru yang mungkin tidak akan aku dapatkan kalau kondisi bumi baik-baik saja. Ini bukan berarti aku memuji Si Pandemi Covid-19 ya, tetapi, aku hanya berterus terang tentang hal positif yang aku dapatkan dibalik semua cobaan ini. Oke kita mulai ceritanya dari awal tahun yap. Cerita akan kubagi dalam tiga part, *kayak orang hamil aja hehe (trimester pertama (Januari-April), trimester kedua (Mei-Agustus) dan trimester ketiga (September-Desember)).

Baca Juga:  Mengisi Semester 8 yang Senggang dengan Magang?

Trimester Pertama (Januari-April 2020)

Memasuki tahun 2020 yang lalu aku membuat banyak sekali resolusi tahun baru—ya seperti kebanyakan orang—semangat awal tahun yang biasanya anget-anget tai ayam wkwk. Resolusiku yang pertama adalah bisa membaca buku setidaknya satu buku di setiap minggunya. Sayang ini hanya terwujud di beberapa minggu awal karena yah… selain karena kesibukan kuliah dan organisasi, budget untuk buku juga lumayan menguras dompetku sebagai mahasiswa tak berpenghasilan. Meski demikian, tak dapat dipungkiri, aku membaca buku-buku yang sangat luar biasa, lima di antaranya; Filosofi Teras karya Henry Manampiring; Seni Hidup Minimalis karya Francine Jay; Kami (Bukan) Sarjana Kertas karya J.S. Khairen; Trik Juara Mengatur Waktu karya Zivanna Letisha; dan Kece Tanpa Kere karya Tim Permata Bank. Membaca buku adalah langkah awal yang aku lakukan dalam mengoptimalkan tiga jenis kecerdasan itu (terutama kecerdasan intelektual). Dengan membaca buku, aku pun termotivasi untuk melakukan sesuatu yang pastinya mengarah pada hal-hal positif.

Memasuki awal Maret, tepatnya pada tanggal 2 Maret 2020 kasus Corona pertama di Indonesia resmi diumumkan Presiden. Konfrensi singkat itu harusnya menjadi deklarasi yang tak boleh dianggap cemen. Saat itu masyarakat merespons dalam berbagai cara. Ada yang langsung takut dan panik, ada yang biasa saja dan bodoamat, hingga ada yang paling santuy dan bersemboyan, “Nyawa di tangan Tuhan.” Saat itu aku sendiri masih biasa saja, tapi ya tidak bodoamat juga. Aku sedikit khawatir, karena ketika si Corona sudah masuk Indonesia, artinya sebentar lagi, cepata atau lambat mereka akan menyebar ke mana-mana karena transmisi lokal.

Aku pun mendadak lebih rajin dalam beribadah, berdo’a demi keselamatan diri dan keluarga. Saat itu aku berharap Corona cepat berlalu, dikalahkan oleh do’a-do’a dan imunitas kita semua. Dampak positif paling pertama yang kudapatkan sejak kemunculan Covid-19 adalah jiwa spiritualitasku meningkat. Aku merasa semakin dekat dengan Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, sejak pembatasan aktivitas sosial aku juga bisa tahu betapa mengerikannya virus ini sehingga muncul rasa simpati dan empati ketika melihat mereka yang terdampak. Baik terdampak secara fisik, mental, maupun finansial (menurtuku ini top up kecerdasan emosional). Bonus di bulan Maret waktu itu adalah aku mendapatkan juara 2 dalam ajang Rector Cup Chess Series yang diadakan kampusku.

Dok pribadi: aku yang berdiri nomor 2 dari kanan

Ironisnya, beriringan dengan waktu, kasus Corona terus melonjak, menggejolak sangat cepat. Melihat hal ini, timbul panic buying di masyarakat. Masker dan hand sanitizer semakin langka dengan harga tinggi tak terduga. Hahh… Corona corona, aku tak bisa berkata apapun, hanya ternganga tak bertenaga. Hal paling menggembirakan saat itu adalah bisa bertahan di tengah keadaan yang terus mencekam. Bukan hanya tentang diri sendiri, aku juga berharap semua keluarga dan orang-orang terdekatku tetap aman dari ancamannya. Aku ingat betul, saat itu juga menulis catatan semacam dear diary yang selama ini hanya tersimpan di laptop—tentang kedilemaanku untuk pulang kampung (Malang ke Lombok) karena ancaman virus waktu itu.

Kamis, 26 Maret 2020

Virus Corona sudah semakin mengganas mengintai Malang Raya. Satu per satu perantau di kota ini mulai berhamburan ke tanah kelahiran. Sebagian di antaranya memilih menetap, bertahan hidup dengan mengendap-endap. Di samping itu, toko makan dan minum sudah semakin minim. Begitupun aku… semaakin bingung. Dilema rasanya, apa yang harus aku lakukan? Pulang, dengan risiko membawa virus untuk tanah kelahiran. Atau diam berbulan-bulan tanpa ada kepastian.

Aku sebenarnya takut pulang, tapi kali ini… egoku menang. Kupesan tiket untuk besok siang, berangkat sambil terbayang-bayang. “Apa yang akan terjadi 14 hari ke depan?”

Jumat, 27 Maret 2020

Kusambut pagi dari atap rumah, sebentar lagi kan kuucap bye-bye pada zona merah. Hmhm… padahal baru sebulan aku di sini. Tapi ya mau gimana lagi? Jalur Malang-Juanda pun kulalui dengan gelisah. Mengingat kasus Covid di Surabaya sudah cukup parah. Ahh aku pun terbang, Bersama orang-orang yang sebentar lagi akan dalam pemantauan.

Sesampai di rumah, aku tak mencium tangan orang-orang. Kuabaikan mereka sembari melepas sepatu dan barang-barang. Seberes bersih-bersih, aku hanya menyapa seadanya. Karena aku tak pernah tahu apakah aku membawa-nya atau tidak. Ibuku langsung melapor pada petugas yang mendata para ODP. Ahh… 14 hariku akan dipenuhi layer-layar monitor. Note: faktanya tidak 14 hari, tapi sepanjang tahun 🙂 next next…

Trimester Kedua (Mei-Agustus 2020)

Jujur saja, sejak segalanya serba dari rumah, durasi rebahanku pun semakin bertambah. Kalau dulu ketika di Malang, banyak sekali tugas, praktikum, dan kegiatan organisasi yang membuatku jarang rebahan. Btw guys, aku jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang. Lebih spesifiknya sih, aku mengambil konsentrasi jurnalistik yang artinya harus liputan ke sana ke mari. Tapi karena alasan pandemi ya begitulah. Kegiatan jurnalistik 3 kami hanya terbatas di depan layar tanpa harus terjun langsung ke dalam masyarakat. Karena dulu, meskipun lelah liputan, desain, dan siaran setidaknya kita masih berjumpa dengan teman.

Baca Juga:  Allostatic Load: Lelah Karena Puasa atau Lelah Karena Stres?

Setidaknya dulu praktikum jurnalistik 1 kami masih bisa terjun ke lapangan dan mewawancari orang-orang demi konten majalah. Setidaknya dulu saat praktikum jurnalistik 2 kami dapat keliling Jawa Timur untuk meliput berbagai hal demi kelancaran on air. Sekarang? Praktikum jurnalistik 3 tampaknya akan membosankan. Hanya bergelut dengan media online dan mengisi kebanyakan konten dengan mengutip dan menyadur saja. Meski demikian, aku sadar bahwa keadaan ini adalah hal di luar kendali. Untuk saat itu yang aku prioritaskan adalah bagaimana berkarya semaksimal mungkin agar mendapatkan hasil yang maksimal.

Dan ternyata… Gais… Aku menyadari bahwa pandemi tidak seburuk itu. Di masa-masa sulit ini ternyata aku belajar banyak sekali hal dan karya baru yang aku hasilkan. Tanpa terasa aku sudah menghasilkan lima puluhan karya jurnalistik dalam praktikum 3 kali ini. Karya-karya tersebut terangkum manis dalam website kami Farenting. Jujur saja, baru kali ini aku merasakan engagement yang luar biasa dari orang-orang yang tidak aku kenali di dunia maya. Aku terheran-heran bagaimana bisa website bayi dilihat hingga ribuan orang? Aku yang berperan sebagai pimpinan redaksi sekaligus web depeloper merasa sangat bangga dan bahagia. Ternyata usahaku belajar web design dari nol membuahkan hasil (meskipun belum berupa cuan). Tentu ini juga tak lepas dari bantuan teman redaksiku, terimakasih.

Trimester Ketiga (September-Desember 2020)

Waktu terus berlalu hingga akhirnya tiba di masa sekarang. Aku menyadari bahwa 2020 berjalan sangat cepat. Dalam waktu itu aku sadar bahwa meskipun banyak rebahan, tetapi aku tetap produktif meski tidak selalu. Aku menghabiskan banyak sekali durasi di depan laptop/ tablet/ ponsen pintarku, terutama Youtube. Di antara 500an channel yang aku subscribe, mungkin hanya 1% yang bel notifikasinya aku nyalakan, salah satunya ya Youtube Satu Persen. Kenapa? Karena aku sadar betul bahwa di masa-masa ini kita harus terus mengisi diri kita dengan konten-konten positif. Terutama hal yang berkatian dengan hidup (di dunia yang sebenarnya kejam ini). Terimakasih banget buat Tim Satu Persen yang selalu memberikan insight menarik sehingga aku dan mungkin jutaan orang di luar sana terus berkembang setidaknya 1% setiap harinya. 🙂

Aku teringat salah satu video Satu Persen yang sangat relate denganku berjudul “Tips untuk Kamu yang Masih Merasa Tidak Beruntung (Filsafat Seneca)”

dalam video tersebut dijelaskan bahwa keberuntungan itu ternyata adalah hal yang tidak instan dan bukan merupakan kebetulan saja. Selama 21 tahun hidup di bumi ini, aku stuck pada pemikiran bahwa keberuntungan itu adalah hal yang memang sudah tertakdirkan. Selama tahun 2020 ini aku belajar banyak sekali hal baru, mulai dari membaca banyak buku,  menghasilkan banyak karya jurnalistik, belajar web developing, dan menumbuhkan pola pikir dan cara pandang baru dalam melihat dunia. Mungkin sekarang hasilnya belum begitu kentara, tapi aku percaya kelak di tahun-tahun berikutnya aku akan merasakan manfaat yang luar biasa dari apa yang aku lakukan tahun ini. Aku yakin kelak aku akan berterimakasih pada diriku yang sekarang, Aamiin.

Oke, mungkin itu saja hal yang bisa aku ceritakan. Dengan ini aku menyatakan bahwa “Aku siap mengahadapi setiap kesempatan yang akan datang di tahun 2021”. Terlebih kini sudah ada sekolah kehidupan bernama ‘Satu Persen’ yang siap menahkodai kehidupanku dan banyak orang lainnya untuk menghadapi setiap tantangan di tahun depan.

Karena keberuntungan adalah kesiapan bertemu kesempatan. Terimakasih kuhaturkan untuk setiap mereka yang sudah berkontribusi dalam kehidupan ini, terima kasih banyak.

#SatuPersenBlogCompetition

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *