Mengisi Semester 8 yang Senggang dengan Magang?

Salah satu hal yang menyenangkan dari magang adalah bisa mendapatkan teman baru—di samping tentunya mendapatkan ilmu dan pengalaman yang baru juga. Anyways guys, untuk mengisi semester 8 yang ‘konon’ lumayan renggang ini, aku memutuskan untuk ikut bergabung dengan tim mentalhealing.id. Mereka adalah sebuah platform yang menyediakan wadah bagi orang-orang untuk bercurhat, mencurahkan keluh-kesah tentang kehidupan.

Nah, kebetulan juga kan, Mental Healing ini lagi buka intern batch 2 gitu. Aku buka proses pendaftaran dan seleksinya seperti apa, dan tanpa pikir panjang langsung daftar deh. Aku realize sih, kalo magang ini tu unpaid, but it’s ok, karena alasan utamaku ya ingin belajar bagaimana sih cara mengembangkan suatu platform digital.

Wait wait wait… bukannya kamu udah punya platform sendiri, Gam? Farenting.com?”

Well, aku dan teman-temanku emang udah punya platform sendiri sih—bahkan lebih dulu ada Farenting (Maret 2020) daripada MentalHealing (Oktober 2020). Lantas kenapa aku tidak mengembangkan platform ku sendiri saja alih-alih magang? Simpelnya seperti yang udah aku mention sebelumnya, bahwa aku ingin belajar bagaimana mengembangkan suatu platform—dengan lebih baik.

Sampai saat ini, farenting masih belum mendapatkan pengikut yang cukup untuk bisa dikatakan besar. Mungkin saluran terbesar audiens kami ya website farenting.com sendiri, tetapi yang sebenarnya paling tampakkan sosial media, terutama Instagram. (Farenting hanya memiliki 228 pengikut dengan 172 postingan), sedangkan Instagram MentalHealing 65 postingan dengan lebih dari 10k pengikut. That’s it!

Aku jadi bertanya-tanya, kok kita susah banget ya naiknya. Padahal udah nerapin berbagai macam riset, wawancara sana-sini, ngutip jurnal luar, bahkan pansos pake nama artis. Hmmm I don’t really know what should I do. So, aku masuk untuk belajar dan ya semacam riset gimana sih cara ngembangin suatu platform? Lagi-lagi ya pertanyaan dan pernyataan berulang, heheh. Yang jelas, setelah satu bulan lebih magang di MentalHealing, aku jadi tahu kalo suatu platform itu mampu berdiri kokoh bukan hanya karena kerja keras content creator, writer, designer, editor dan mereka yang berkecimpung langsung dengan audiens. Ternyata masih banyak divisi yang lain, yang enggak kalah penting dalam pengembangan suatu platform. Apa saja? BANYAKKKKKKKKKKK.

Baca Juga:  Bukit Pergasingan Sembalun: Pemanasan Sebelum ke Rinjani?

Di MentalHealing sendiri, ada 8 divisi yang semuanya penting dan saling melengkapi! Mulai dari community development, content creator, content writer, graphic designer, people development, public relation, research & development, dan voice talent & scriptwriter. Kali ini aku akan membahas tiga divisi yang di-bold. Alasannya ya karena aku pengen bahas dan kebetulan juga kemarin tiga divisi ini yang lagi ngobrol-ngobrol via Zoom. Langsung dibahas aja kali ya, cus!

Content Creator

Aku rasa dari namanya saja sudah jelas ya. Tugas konten kreator ya membuat konten. Baik berupa tulisan, grafis, infografis, audio, visual, atau pun audio visual. Harus bisa semua dong? Iya itu tergantung dari si konten kreator sih, dia fokusnya ke bidang apa—keahlian, minat dan bakatnya di mana. Selama magang ini, aku difokuskan untuk membuat video Tiktok dan Youtube. Skrip dan voice over-nya sudah di-handle oleh tim VOA & Scriptwriter (Rosa dan Naomi). Rekan sesama konten kreatorku adalah Alma yang mengurus Instagram dan Twitter.

People Development

Jujur aja, aku cukup sering mendengar istilah ini, tetapi aku enggak tahu perannya ngapain sih dalam perusahaan? Emang penting ya? Ternyata setelah aku memasuki culture start-up, akhirnya aku sadar bahwa peran people development sangat penting! Kalau diibaratkan sih, mereka kek pendorong supaya orang-orang dalam perusahaan saling terkoneksi, saling termotivasi, hingga kinerja perusahaan terus dan semakin berkembang. Nah, contohnya nih, di foto paling atas, people development (Athaya dan Syifa) mempertemukan divisi content creator dengan divisi research and development. Dalam pertemuan itu, kami bermain games, pengakraban, dan ngobrol banyak hal. Ini tentu bisa ngebuat dunia kerja yang ‘beku’ menjadi lebih ‘cair’.

Baca Juga:  Pulang Kampung dengan Kapal DLN Oasis Rute Surabaya-Lombok

Research and Development

Btw, karena malam itu dipertemukan dengan tim Rnd (Michel, Diva, dan Betta), maka aku akan membahas divisi ini sekalian. Jujur selama menjalankan Farenting bersama keempat temanku, enggak pernah tuh kepikiran buat divisi yang khusus ngeresearch gini. Tapi harap maklum lagi sih, karena kan Farenting cuman sekadar tugas. Tapi balik lagi, menurutku divisi ini penting! Bisa dibilang tim ini tugasnya ‘mematai’ platform lain yang niche-nya sama kayak perusahaan kita, hihihi. Mereka bertugas menyusup untuk mengetahui, “Ini perusahaan ngapain sih, kok bisa cepet banget naiknya?” Nah dari penelusuran tadi, mereka akan ngasih tau nih ke rekan kerja seperti konten kreator; tentang bagaimana strategi, taktik, apa yang lagi nge-trend dan hal-hal menarik lain yang sekiranya bisa diterapkan di perusahaan kita.

Gimana, got an insight? Exactly! Dari sini aku tahu kalau dunia kerja (khususnya di perusahaan) enggak seremeh cuman membuat konten dan hanya stuck kerja kerja kerja. No! Ini baru ngomongin tiga divisi loh, gais. Kalau kamu searching-searching lagi, pasti bakal banyak tuh divisi lain yang juga turut berperan penting dalam kemajuan suatu perusahaan. Now you know, aku udah enggak sabar sih buat menerapkan ini di perusahaanku kelak. Wadidaw. Semoga bisa heheh.

2 Replies to “Mengisi Semester 8 yang Senggang dengan Magang?”

  1. Wah bermanfaat dan produktif sekali bang, saya saat ini juga semester 8 rasanya gak mempunyai kesempatan untuk ikut kegiatan seperti itu selain ngurusin skripsi. Entahlah justru kerenggangan tidak saya rasakan selama semester 8 ini, serasa justru selalu dikejar deadline, revisi dll.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *