Mendaki Rinjani Lewat Jalur Torean #part1

Sabtu, 26 Juni 2021

Aku berencana pergi di tanggal 26 ini. Kembali menuju kota perantauan, kota dingin, kota pelajar, Kota Malang. Awalnya sih begitu, tetapi beberapa hari sebelumnya—selama beberapa hari… aku demam, tenggorokan, kepala dan tubuhku serasa terbakar. Panas sekali. Ayah dan ibu memintaku untuk ke dokter, tetapi aku menolak karena yakin kalau paracetamol akan berhasil menurunkan suhu tinggi di tubuhku. Untungnya pada Kamis sore aku pulih, ya meskipun tenggorokanku masih tetap perih.

H-1 atau tepatnya di Hari Jumat, aku merasa sangat pengap. Rencana kembali ke rantau sepertinya harus tertunda lagi. Ada beberapa alasan sih. Yang pertama, aku harus benar-benar pulih dari demam dan sakit tenggorokan. Kedua, Aji, teman kos yang juga akan menjadi teman seperjalanan sedang sibuk-sibuknya dengan tugas UAS. Dan yang ketiga, ada panggilan untuk kembali ke alam… Ke mana lagi kalau bukan ke Rinjani?

Alasan ketiga ini sebenarnya enggak penting-penting amat. Toh Gunung Rinjani sudah 2x kudaki. 2017 ke puncaknya, 2020 ke danaunya. Tapi tapi… yang membedakan pendakian kali ini dengan yang sebelumnya adalah ‘jalur pendakiannya’. Ya, kali ini kami akan naik lewat jalur Torean, start-nya dari Desa Sambik Elen di Kabupaten Lombok Utara. Di sana ada Majdi, seorang kawan yang siap menjamu sekaligus menjadi tour guide pada perjalanan kali ini.

Tiga orang lainnya adalah Ta’ang, Istiqlal, dan Tara yang tahun lalu juga menjadi teman sependakian ke Rinjani. Bergabungnya Yantok menggenapkan tim ini menjadi enam orang. Konon dia ingin melunasi hutang sebagai anak Lombok karena belum pernah mampir ke Danau Segara Anak. Begitu peralatan dan logisitik dirasa sudah cukup, kami langsung cus.

Baca Juga:  Solo Trip Adalah Ajang Menambah Kenalan, Hehe

Perjalanan bermotor ini cukup panjang, 2 jam-an perjalanan lumayan menguras tenaga—lebih tepatnya pantat yang capek duduk, juga pundak dan paha yang secara bergilir kelelahan menahan beban dalam carrier yang kami bawa. Untungnya sepanjang jalan tersuguhkan pemandangan yang lumayan, hingga  tiba di satu titik ketika mentari ingin berpamitan. Kami berhenti, mengantar pulang sang senja, lalu berfoto, membuat video bersama, dan kembali menyusuri malam yang dingin.

Berhubung adzan sudah berkumandang, kami tentu langsung bersua dengan Tuhan di salah satu masjid yang lokasinya tidak sempat aku lihat. Singkat cerita kami tiba di Rumah Majdi, tempat menginap dan men-charge energi sebelum besok pagi memulai pendakian. Sambutan hangat berupa obrolan berisi pengalaman mendaki menjadi suguhan utama—di samping tentunya teh panas nan manis khas Desa Sambik Elen. Selepas mengisi perut, kami berkeliling desa, menyapa warganya sekaligus membeli perjajanan duniawi sebelum akhirnya beristirahat dengan lelap.

Minggu, 27 Juni 2021

Pagi hari Minggu kuturut kawan ke Gunung, naik-naik ke puncak gunung tinggi-tinggi sekali, kiri-kanan kulihat saja… banyak pohon cemara.

Dari kiri ke kanan: Yantok, Majdi, Tara, Lal, Agam, Ta’ang di Gerbang Sambik Elen

Hari masih redup Ketika kaki kami sudah tidak sabar menyusuri Rinjani. Diantar dengan mobil pick-up putih, melewati perumahan warga, hutan dengan jalan yang menanjak, hingga akhirnya tiba di basecamp pendaftaran. Di sana kami disambut hangat orang-orang setempat, mendaftarkan diri, briefing singkat, dan ditutup dengan do’a dan foto bersama di depan gerbang Rinjani—gerbangnya memang hanya menggunakan bambu karena memang belum sepopuler Sembalun atau Senaru.

Sejak awal jalurnya sudah cukup menanjak dengan tanah basah bekas hujan. Lumayan menguras tenaga, tapi tidak cukup untuk menyurutkan semangat kami di pagi hari. Puluhan menit kemudian, kami tiba di pos pertama yang jaraknya memang sangat dekat. Berhubung kaki dan Pundak masih kuat, kami pun melanjutkan perjalanan sampai akhirnya cacing-cacing di perut berteriak minta dikasi makan. Canda dan tawa kami juga sudah mulai diiringi dengan napas terengah-engah. Sebuah pertanda bahwa kami cukup lelah dan butuh seteguk asupran dan sejenak istirahat.

Baca Juga:  Mengisi Semester 8 yang Senggang dengan Magang?

Benar saja, sesederhana apapun makanan di gunung, selalu ada sihir yang membuat rasanya menjadi lebih nikmat. Istilah Sasak Pancor-nya, “Mun te lek Guneng jek moik doang ye.” Sebuah ungkapan yang memang begitu adanya. Makanan yang sama, jika kita memakannya di rumah terasa biasa—maka saat di gunung rasanya seperti di surga. Sekian untuk part pertama di pendakian ketiga ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *