Jangan Pesimis Menghadapi Quarter Life Crisis

Istilah quarter life crisis (QLC) sepertinya sudah tidak asing bagi kebanyakan anak muda saat ini. Kita yang sudah menginjak usia 20an dianggap sudah cukup dewasa untuk lepas dari tanggungan orangtua. Kalau pun masih bergantung, biasanya kita akan terkepung dengan ragam ekspektasi dan tuntutan yang ingin, tapi sulit diwujudkan. Mulai dari ortu yang menuntut anaknya untuk segera menikah, desakan untuk cepat-cepat lulus kuliah, hingga tuntutan untuk bekerja dan mencari nafkah.

Jangan Pesimis Menghadapi Quarter Life Crisis

“Lantas apakah semua perkara itu wajar dialami anak muda di usia 20an?” Menurutku itu sangat wajar dan justru aneh bila kita tidak mengalaminya. Hal ini karena memasuki usia 20-30 tahun, fase kehidupan tidak lagi seperti zaman perkuliahan yang tahapannya sudah jelas—mulai dari perpindahan dari semester satu ke dua, dua ke tiga, dan seterusnya. Pun kalau ngomongin krisis anak kuliahan, palingan hanya sebatas tugas, kan? Just kidding, hehe. Saat ini aku di usia 21 tahun dan tengah merasakan ‘kejamnya’ dunia perkuliahan juga, kok. Bahkan jangan salah, kondisi ini juga kerap menimpa orang-orang berusia di bawah 20 tahun. ‘Early quarter life crisis’ adalah istilah kasar bagi para prematur QLC ini.

Celakanya prosedur kehidupan pasca lulus dari dunia pendidikan tidak sejelas itu. Tidak ada lagi guru atau dosen yang menopang langkah kita. Ibaratnya sih kita sudah keluar sebagai penyintas tantangan luar biasa bernama skripsi (tugas akhir). Note: saat ini aku juga sedang berada di tahap nyusun tugas akhir. Aku sih enjoy the moment aja, karena konon skripsi hanya butiran debu dibandingkan susahnya dunia kerja. Informasi ini tidak kudapatkan dari pemberitaan media saja, tapi aku juga sering melihat fenomena yang sama pada para kating yang baru mendapatkan gelar sarjananya (fresh graduate).

Banyak di antara para fresh graduate yang menjadi pengangguran lantaran minimnya lapangan kerja. Bahkan tak sedikit dari mereka yang berpredikat cumlaude menangis karena IPK-nya tak dilirik perusahaan. Tuntutan dari ortu dan lingkungan sekitar juga menambah beban tersendiri. Belum lagi kondisi pandemi yang membuat segalanya semakin kacau. Sungguh malang nasib mahasiswa akhir ‘angkatan Covid’, perjuangannya harus lebih keras karena rintangan hidup yang begitu deras.

Namun demikian, saat iseng-iseng Googling, aku menemukan sebuah quotes dari Achmad Zaky, CEO dan Founder Bukalapak, “Krisis bukan waktunya untuk pesimis. Ia justru sering menghadirkan peluang manis,” Ungkapan tersebut menggambarkan kondisi saat ini, saat dunia sedang dilanda pandemi. Krisis sudah terjadi dalam segala aspek kehidupan; Kesehatan, Pendidikan, ekonomi, ditambah krisis yang terjadi pada orang-orang usia dewasa muda (quarter life crisis).

Lebih Jauh Mengenal Quarter Life Crisis

Quarter Life Crisis bila dimaknai secara harfiah berarti krisis usia seperempat—ada yang mengatakan ¼ usia hidup, ada pula yang beranggapan usia ¼ abad (25 tahun). Dalam konteks psikologi, QLC kerap merujuk pada ketidakstabilan kondisi psiko-sosial dan emosional yang terjadi di usia 20an. Pada fase ini, banyak perubahan konstan yang baru muncul untuk pertama kalinya dalam hidup. Jika tidak siap, perubahan ini rentan memicu rasa frustrasi, khawatir, panik, bimbang, hingga kehilangan arah. Bila tidak ditangani dengan tepat, QLC bisa saja berlanjut pada konteks yang lebih parah; seperti stres, depresi, bahkan keinginan untuk bunuh diri! Sangat mengerikan.

Namun sebaliknya, bila melihat krisis ini dari perspektif yang positif, kita akan menemukan peluang manis alih-alih pesimistis. Perlu diingat, bahwa orang-orang hebat selalu lahir dari kondisi sulit dan krisis. Anda pasti sering mendengar petuah tentang kisah hidup orang-orang yang sukses. Apakah historis hidupnya berisi keberhasilan, pencapaian, atau prestasi saja? Tentu tidak. Hal paling berkesan dan selalu teringat adalah kisah-kisah ketika mereka terpuruk, bangkrut, dan di penghujung keputusasaan.

Baca Juga:  Persiapan Menghadapi Kesempatan yang Akan Datang

Begitu pun dengan orang dewasa muda ketika menghadapi fase quarter life crisis; akan banyak pressure, tanggungjawab baru, perasaan insecure melihat pencapaian teman, hingga overthinking terhadap masa depan. Sebagai orang yang juga tengah menghadapi krisis ini, aku ingin berbicara dalam sebuah sajak:

Melewati Masa QLC dan Menjadi Dewasa

 

Dulu saat masih kecil, ingin sekali rasanya segera menjadi dewasa.

Namun kini, saat sudah dewasa secara usia, ternyata badai kehidupan begitu luar biasa.

Ada banyak sekali rintangan hidup menuju masa Quarter Life Crisis ini.

Belum lagi rasa iri begitu melihat karier kawan yang semakin tinggi.

 

Sedangkan diri sendiri masih stuck, seperti masih saja di tempat yang sama.

Seolah hidup begitu-begitu saja, terus-terusan menjadi beban orangtua.

Apalagi saat ini terpaan sosial media selalu mengelabui kita.

Mereka mempertontonkan kehidupan maya yang sangat sempurna.

 

Seperti tidak ada cacat dan kepedihan yang menimpa hidup.

Padahal setiap kita diajarkan untuk selalu merasa cukup.

Jadi jangan hanya menengok ke atas lalu tiba-tiba merasa suram.

Sesekali lihatlah ke bawah, ada banyak kisah yang jauh lebih kelam.

 

Langkah untuk Menjadi Dewasa

Ada beberapa hal yang bisa digaris bawahi pada sajak singkat di atas. Pertama, rintangan menuju masa QLC itu memang berat, tetapi berkatnya anda akan lebih kuat. Bayangkan saja bila kehidupan anda selalu datar tanpa kekhawatiran, tidak tertarik berkarier, enggan mengembangkan passion, dan tanpa tantangan sama sekali. Tentu hidup akan terasa membosankan karena hanya bisa berangan-angan. Ironis sekali bila usia sudah beruban tetapi jiwa masih kekanakan. So, mari pandang QLC sebagai hal positif, semacam blessing in disguise, gitu.

Baca Juga:  Fokusnya ke Tiktok si Aplikasi Goblok

Kedua, ubah rasa iri jadi motivasi. Tak dapat dipungkiri, rasa iri kerap muncul saat melihat prestasi atau pencapaian orang lain melebihi kita. Pada hakikatnya rasa iri adalah hal yang wajar dan manusiawi. Baik dan buruknya bergantung bagaimana kita menyikapi atau memandang rasa iri itu sendiri. Bila kita mewajarkan rasa iri dengan membenci orang lain, maka dampak buruknya akan menumpuk pada diri alih-alih orang lain. Sebaliknya, kita perlu mengubah mindset agar rasa iri bisa mengarah ke hal positif, misalnya dengan belajar dari orang yang membuat kita iri.

Dalam Drama Start-up, ada sebuah ungkapan dari tokoh Han Ji Pyeong, “Jika tidak bisa mengalahkan musuhmu, jadilah pasukannya,” sudah barang tentu, jika kita dekat dengan orang hebat, maka kita juga akan menjadi orang yang hebat. Daripada terus merasa iri pada pencapaian orang lain, kenapa tidak mengambil pelajaran saja darinya? Selalu ingat, setiap orang punya jatah gagal dan timeline-nya masing-masing untuk berhasil. Lebih baik fokus untuk mengembangkan diri agar menjadi yang terbaik di kemudian hari.

Ketiga, kehidupan maya yang sempurna? Fase QLC bagi generasi saat ini sangat berat. Di satu sisi krisis pandemi begitu menghantui, di sisi lain gonjang ganjing sosial media terus mengelabui. Kita seringkali terombang-ambing pada kehidupan maya yang sempurna. Begitu melihat teman kuliah menikah, pengen ikutan; saat melihat teman berbisnis A, pengen menocoba hal yang sama, begitu seterusnya. Padahal setiap kita tentu memiliki tujuan yang berbeda, passion dan ikigai yang juga berbeda. Jangan sampai terlalu banyak opsi membuat kita tersesat pada impian orang lain.

Keempat, meningkatkan kualitas dan efikasi diri. Fase QLC merupakan kesempatan emas untuk mencari jati diri, melatih otak dalam problem solving, serta membentuk rencana pribadi demi mencapai visi. Dalam sebuah penelitian yang menganalisis hubungan antara efikasi dan fase kehidupan QLC, didapatkan hasil bahwa semakin tinggi efikasi diri, maka semakin rendah tingkat stres pada mahasiswa. Jadi, dapat disimpulkan bahwa meng-upgrade skill sama dengan mengurangi stres.

Last but not least, selalu bersyukur dan bersabar akan segala nikmat—terutama nikmat iman, aman, dan imun pada kondisi pandemi ini. Syukur dan sabar adalah kunci kebahagiaan dan senjata pamungkas dalam menghadapi quarter life crisis. Sebagai dewasa muda, kita juga harus senantiasa menerima segala kelebihan dan kekurangan kita selama ini. Tidak lagi berandai-andai pada masa lalu atau pun berprasangka buruk pada masa depan. Just enjoy the moment!

8 Replies to “Jangan Pesimis Menghadapi Quarter Life Crisis”

  1. Aku cuma bisa bilang, semangat ya. QLC memang nyata dan pasti dialami semua orang. Tapi sebenarnya itu hanya sebuah fase dalam kehidupan kok, seperti yang mungkin pernah kamu lalui sebelumnya 🙂 Asalkan kita tetap fokus dengan tujuan kita, krisis ini akan terlewati dengan natural dan kita akan tersenyum setelahnya 🙂

    Pengalamanku sendiri, life crisis betul-betul kurasakan ketika menginjak usia 30. Rasanya semua tidak akan sama lagi, dan aku bakal punya lebih banyak lagi beban hidup. Hahaha mungkin terdengar lebai, tapi begitulah yang kurasakan 😛 Sampai aku akhirnya memutuskan hal-hal besar dalam hidupku. Resign dari perusahaan mapan untuk menantang diriku sendiri di bidang lain, memutuskan untuk berhijab, sampai memberanikan diri membeli rumah. Tidak ada yang kusesali, sungguh. Pelajarannya adalah, jadikan krisis menjadi sebuah motivasi untuk berbuat lebih dan menantang diri sendiri. Setelahnya, kita bisa bangga banget sama diri kita sendiri lho!

    Semangat buat kuliah dan skripsinya ya. You can do this! 😀

    1. Wah iya Kak.. Bener2 lagi di masa QLC sih sekarang. Lebih-lebih pandemi gini perjuangannya berasa makin sulit 😅. Tapi makasi lo udah mau berbagi pengalamannya dan insight-nya. Sukses trus ya 😊

  2. Yeah, just enjoy the moment! Sebagai orang yg juga lagi ada di track QLC, dan banyak belajar menghadapi berbagai circumstances di tahun lalu, i could take these words seriously. Karena sebelumnya saya kebanyakan lengah oleh keadaan dan terbawa arus yang nggak pasti. Mudah stress, mudah triggered sama pencapaian orang lain, merasa insecure setiap kali sadar kalau progress saya sangat lamban. Sebagai pejuang tingkat akhir juga, saya bahkan sering merasa depresi kalau ngeliat orang-orang yang ada di belakang saya turns out menyusul tiba-tiba dan lulus duluan. Setelah diresapi sekian lama, ternyata jawaban atas kegelisahan itu cuma satu (atau mungkin dua😂), yaitu saya kurang menikmati ritme hidup yang bisa selalu berubah-ubah sesuai situasi dan kondisi, dan terlalu mudah distracted sama orang lain, alhasil saya nggak bisa fokus dengan tujuan sendiri.

    Semoga dalam keadaan apapun kita bisa selalu fokus dan kuat dalam menghadapi permasalahan hidup dan bisa selalu menemukan solusinya, ya. By the way, salam kenal!😁

    1. hai Awl! bener ‘kan😅. Entah gimana rasa insecure ini suka muncul, apalagi belakangan liat banyak temen udah semproan, sidang, bahkan cumlaude dalam waktu 3,5 tahun huhu. Tapi balik lagi sih, kita harus fokus sama prioritas kita sendiri alih-alih sibuk merasa iri.
      Salam kenal juga 😄

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *