Fokusnya ke Tiktok si Aplikasi Goblok

tiktok goblok

Disclaimer

Jadi beberapa hari yang lalu, aku mencoba aplikasi yang lagi booming karena konon bisa menyembuhkan orang yang sedang koma (korban sinetron). Bayangin aja, dokter yang udah susah-susah study bertahunan kalah sama Tiktok! Jadi ceritanya ada keluarga kecil gitu; ayah, ibu dan satu anak perempuan. Si ibunya lagi dalam kondisi koma, trus si ayah sama si anaknya berinisiasi buat joget Tiktok gitu (karena si Ibu suka Tiktok). Eh tau tau… Tonton aja sendiri :v

konyol banget ya hahaha…

Pas Nyoba Nginstall Tiktok Tapi Langsung disindir Goblok

Anyway, karena banyaknya keviralan yang terjadi, aku semakin penasaran dengan Tiktok. Idealisme dan reputasiku seolah dipertaruhkan saat akan mengunduhnya. Lebih-lebih kebanyakan teman emang belum pada main Tiktok, hanya beberapa saja. Mereka seperti tidak mau memakan omongan sendiri; ‘tentang betapa alaynya Tiktokers, aplikasi perusak akhlak anak bangsa, dan berbagai stigma negatif lainnya. Aku sendiri pun pernah ‘menyerang’ seorang teman karena bermain Tiktok. Waktu itu Tiktok masih baru banget, 2016 ke 2017 gitu (masih jadi anak SMA).

Singkat cerita beberapa tahun kemudian, tepatnya tanggal dua bulan dua di tahun dua puluh dua satu… Aku nginstall Tiktok! Setelah mendapatkan screenshot proses downloading, aku langsung buat WA story dengan caption: “Finally, jangan lupa, siap-siap follow ya gaes,” selang beberapa menit kemudian, ada reply dari temen SMA yang menurutku cukup idealis dan agamis. “Tunggu dulu,” katanya, disertai lampiran SS tentang Tiktok = Aplikasi Goblok. Hey… C’mon dari dulu juga algoritma Play Store gitu. Entah gimana ceritanya kalo ngetik bilang ‘aplikasi goblok’ di Playstore yang muncul Tiktok, yang jelas ini bukan bidangku.

Aku pun menjawabnya, “Buang negatifnya ambil positifnya aja,”

Baca Juga:  Jangan Pesimis Menghadapi Quarter Life Crisis

“Akhlak yang diserang sama Tiktok,” katanya lagi.

Kujawab lagi dengan pengetahuan awam yang kumiliki, (karena aku belum pernah sama sekali main Tiktok, pada waktu itu)

“Ya soalnya konten kreator yang ngeshare info, tips, tutorial, dan bahkan dakwah udah semakin banyak di Tiktok. Untuk mengimbangi konten-konten yang negatif,” setelah itu hanya muncul centang dua garis biru. Menurutku dia terlalu fokus pada stigma negatif yang selama ini banyak melekat pada Tiktok. Padahal dia sendiri mungkin belum melihat fitur dan konten yang ada di dalamnya.

Kalau Dari Segi Fitur dan Konten, Tiktok Gimana?

Seteleh si Tiktok berhasil terpasang, kesan pertama yang kudapatkan biasa saja wkwk. Kurasa aplikasi ini tak jauh berbeda dengan IG TV, sih. Namun, lama kelamaan aku sadar letak perbedaan keduanya. Bisa dibilang Tiktok itu emang dirancang buat happy-happy, focus on video only, trus memudahkan user buat ngebuat video tanpa perlu tambahan aplikasi lagi! Mantaps banget sih buat para konten kreator!

Dari segi konten, biasanya Tiktok selalu disorot atau diberi stigma negatif. Padahal menurutku masih sewajarnya aja kok. Bahkan sejauh yang aku lihat, konten positif seperti tips-tips, tutorial, informasi singkat, hingga dakwah banyak muncul di laman explore-ku (ini mungkin tergantung preference user sih). Di sisi lain, aku mengakui banyak juga konten berbau toxic. Bukan hanya tentang yang joget-joget aja ya, enggak sedikit juga yang mengarah ke verbal harassment—baik yang dilontarkan si konten kreator maupun netizen.

However, this is internet, dude. Kita enggak bakal pernah bisa ngatur ucapan dan tingkah laku jutaan penggunanya. Yang bisa kita kontrol ya diri kita sendiri. Kita memiliki kuasa dalam menentukan konten seperti apa yang kita produksi atau konsumsi. Jadi, menurutku salah besar jika hanya berfokus dengan menyalahkan platform Tiktok-nya. Salah fokus itu. Sebagai netizen kitalah yang bertugas memfilter apa yang kita dapatkan.

Baca Juga:  Jangan Pesimis Menghadapi Quarter Life Crisis

Kalau ngomongin suatu platform toxic atau goblok mah semua orang bisa. Ngebuat platform segede Tiktok? Wah pasti hanya segelintir dari miliyaran orang yang mampu. Oleh karena itu, lebih baik fokus pada konten yang disajikan, bukan ‘menyerang’ karena melihat oknum-oknum yang toxic. Ya, karena pada dasarnya setiap platform punya sisi positif dan negatifnya. Setuju enggak?

4 Replies to “Fokusnya ke Tiktok si Aplikasi Goblok”

  1. setuju banget! saya juga baru download tiktok akhir tahun kemarin dan ternyata nggak seburuk itu kok, bener-bener tergantung user preference. saya pernah scroll tiktok non stop kurang lebih 30 menit aja, FYP-nya langsung kebentuk sesuai preference saya. caranya saya ganti content preference dengan bahasa asing dan klik not interested kalau ada video alay 😀

  2. Aku termasuk yg berpikir tiktok tuh alay banget. Tapi lama-lama banyak konten yg positif kok.
    Sekarang jumlah pengikut tiktok sebagai salah satu syarat pekerjaan tertentu hehehe

    1. Hi Viand. Thanks udah mampir 😁
      .
      Waduhhh syarat pekerjaan apa tuh? 😅 kalo liat syarat kerja sekarang kebanyakan emang “aktif di sosial media” sih. So, pinter2 ngatur diri aja kapan waktunya jadi produktif dan konsumtif saat di sosmed.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *