Bungkus atau Makan Di Sini, Mas?

Sejak kembali menjadi perantau, aktivitas makan dan minumku tidak lagi ‘tinggal ambil’ di dapur. Beberapa hari lagi akan genap sebulan aku di Malang. Kuliah memang masih online, hanya saja aku ingin pergi sebentar untuk melihat-lihat keadaan kosan yang ditinggal hampir setahun. Tak perlu kutunjukkan kondisi kosan-ku karena ditinggal atau pun ditinggali ia tetap berantakan haha…

Oke sebelum semakin melebar, mari kita kembali ke topik yang ingin kubahas, tentang makan dibungkus atau makan di tempat. Jadi di suatu pagi di Bulan Maret, seperti biasa anak kosan sepertiku tengah mencari makan. Ternyata di depan gang kosanku ada warung baru gitu, menu utamanya basic sih; ayam geprek sepuluh ribuan dengan bonus es teh. Murah banget! Ya mungkin karena baru jadi lagi promo, mungkin.

Tapi fyi, sebatas ingatanku, setiap warung atau usaha apapun yang ada di sini tak pernah betah. Setelah beberapa bulan toko di depan gang kosanku ini selalu berganti-ganti ‘penyewa’. Padahal secara geografis letaknya di pinggir jalan, ramai lalu lalang, bahkan sangat berdekatan dengan toko sepatu yang selalu diskon dan ramai. Seharusnya kondisi ini membuat para penyewa betah bukan?

Aku semakin penasaran dan mencoba untuk makan di tempat, terus terang aku enggak pernah makan di tempat ini lantaran jaraknya yang hanya tinggal nyebrang dari kosan. “Bungkus atau makan di sini, Mas?” tanya penjual warung itu. “Makan di sini, Mas,” jawabku singkat lalu menduduki salah satu kursi kayu di dalam warung.

Sejauh pengamatanku, tempatnya memang sepi. Tak ada pengunjung kecuali aku, mungkin karena masih baru? Mungkin. Kucoba menyalakan wifi, tak ada masalah karena nama warung ini juga tertera di layar. Kalau dari segi dekorasi juga enggak begitu kuperdebatkan, minimalis dan cukup klinis. Mungkin bagi sebagian orang sih terlalu sepi dekorasi membuat suatu warung makan jadi membosankan. Tapi toh kita kan cuma mau makan, bukan untuk mengobrol panjang layaknya di cafe.

Setelah menunggu cukup lama, tibalah minuman teh yang terasa biasa saja. Tak ada yang istimewa, kecuali keramahan si pelayan meskipun terlihat belum terlatih. Satu-satunya yang menjadi masalah adalah minuman ini disajikan dalam gelas plastik, damn. That’s so bad. Padahal salah satu niat terselubungku untuk makan di tempat juga agar tidak membawa sampah plastik. You know masalah plastik sudah sangat memperihatinkan di negeri ini. Sungguh tidak bijak jika warung makan di tempat tapi penyajiannya masih menggunakan plastik sekali pakai.

Baca Juga:  Review Buku Alien itu Memilihku: Bertahanlah Walau Bagaimanapun Kondisinya

Setelah sepertempat gelas teh menerobos kerongkonganku, akhirnya tibalah si ayam geprek. Sayangnya, lagi-lagi aku harus kecewa karena mereka menggunakan piring rotan dan kertas nasi sebagai penyaji! Haduh, padahal menggunakan piring dan gelas biasa tentu lebih menghemat dan ramah lingkungan, bukan? Di atas piring itu tersaji nasi berbentuk setengah bola, ayam geprek mungil yang biasa saja, tiga iris mentimun, dan aku lupa nama sayur pelengkap yang satunya (mungkin bisa dibantu di komen? Tapi kurang jelas sih motonya hehe)

Aku percaya bahwa rasa lapar bisa membuat makanan apapun menjadi lebih sedap dari yang seharusnya. Apalagi kalau makannya pake tangan sendiri (bukan sendok), jadi seolah semua indra terlibat dalam menyantap si makanan. Mata menikmati dekor makanan, lidah mengecap, tangan merasakan tekstur, hidung mencium aroma, telinga mendengarkan krispi yang terkunyah. Ah memang tak ada yang lebih nikmat daripada makan di saat lapar. Apalagi kalau makannya memang betul lebih sedap.

Begitu aku hendak mencuci tangan, ternyata hanya ada wastafel. Tidak ada sabun apalagi handsanitizer! Ngeselin sih. Oh apa mungkin karena masih baru? Hmm tetapi menurutku terlalu konyol jika sabun cuci tangan tidak tersedia di zaman serba klinis ini. Jangankan untuk makanan berat begini, cemilan, permen, bahkan tidak makan sama sekali tangan harus tetap higienis kalau sekarang. Aku tidak komplain kepada para pelayannya, karena kulihat beberapa di antara mereka sedang sibuk dengan gadget.

Alhasil, aku terpaksa menyuap makanan dengan sendok, tanpa garpu, karena ayamnya lembek dan mudah terpotong. Kalau menurutku yah, tempat makan itu jangan dibuka dulu sampai semuanya siap, terutama hal-hal paling mendasar! Seperti penggunaan gelas dan piring dari keramik atau kaca, sabun cuci tangan, dekorasi menarik (ini relatif sih) dan pelayanan yang ramah (ini udah lumayan). Dan yang tak kalah penting adalah rasa makanan yang terhidang (perlu ditingkatkan baik dari kualitas maupun kuantitas).  Ini penting karena jujur, banyak warung yang menyediakan jajanan yang  yang lebih sedap dengan porsi lebih besar dan harga yang relatif setara.

Baca Juga:  Review Buku You Do You: Panduan Hidup di Umur 20an

Ini hanya cerita singkat yang seolah menjadi kritik dan saran tentang warung depan gang kosan yang selalu sepi. Karena mungkin beberapa hal butuh improvisasi agar bisa laris manis. Dengan kata lain pembeli tidak hanya datang sekali dengan membawa penyesalan, tetapi dapat singgah berkali-kali karena bikin nagih dari segi rasa, harga, porsi, maupun service yang diberikan. Next, semoga kalau makan di tempat enggak pake plastik lagi yah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *