Bukit Pergasingan Sembalun: Pemanasan Sebelum ke Rinjani?

Sebagai orang yang berasal dari Tanah Rinjani, Lombok, sudah semestinya kegiatan mendaki menjadi salah satu hal yang wajib. Namun, percayalah bahwa aku yang dulu merupakan anak rumahan dan sangat tidak suka dengan aktivitas alam. Ya, dulu aku hanyalah manusia cupu (semoga sekarang tidak) yang tidak tahu banyak tentang pulau kecil ini. Bisa dibilang aku adalah pecandu game playstation sih lebih tepatnya.

Bergabung Pramuka Karena Diminta Orangtua

Melihat aku yang kebanyakan di rumah, mama menyuruhku untuk bergabung dalam salah satu ekstrakulikuler di sekolah, “Milu be lek organisasi. Mene-mene milu pramuka wah, pokok arak,” katanya. Di rumah aku memang lebih sering menggunakan Bahasa Sasak—that’s my native speaking. Bila perkataan mama diterjemahkan, kurang lebih begini, “Ikutilah organisasi apapun. Kalau enggak ada ya setidaknya pramuka, yang penting ada.”

Siapa sangka organisasi pramuka ini mengantarkan aku pada pendakian pertama, mendaki Bukit Pergasingan. Aku cukup exited dan kepo pada banyak orang tentang bagaiamana sih pendakian itu? Apakah di atas sana benar-benar dingin? Apakah di atas sana Lelah dan keindahannya luar biasa? Setelah menerima banyak masukan, akhirnya aku berhasil menyiapkan semua perlengkapan. Mulai dari membeli kebutuhan logisitik hingga meminjam peralatan daki. Namun justru hal terpentinglah yang lupa kusiapkan, fisik dan mental!

Aku saat sedang berwudhu di got sebelum pintu masuk Pergasingan (dok pribadi)

Mengenang Persiapan Sebelum Pendakian ke Bukit Pergasingan

Jujur saja, awalnya aku ragu dan jijik untuk masuk ke got ini. Namun temanku Fani menjadi kelinci percobaan—mungkin dia sudah terbiasa jadi aku ikut saja hehe. Buat yang belum tahu nih, air di Sembalun itu dingin banget kayak air kulkas. Penjelasan ilmiahnya ya karena desa ini terletak di ketinggian 800an meter di atas permukaan laut, di bawah kaki Rinjani. But by the way, airnya bersih dan tidak berbau, kok. Tapi ya tetep tidak perlu berkumur.

Aku lupa dulu pergi di tahun 2014 atau 2015, yang aku ingat aku masih kelas 10, masih junior dan juga polos wkwk. Aku tadi membaca sebuah Whatsapp story yang mengatakan, “Pendidikan menyatukan kita, tapi masa depan akan memisahkan kita,” Sepertinya ungkapan tersebut sangatlah cocok pada organisasi kecilku ini. Dulu kami selalu bersama dalam setiap kegiatan di sekolah, sungguh memang tiada tara masa-masa itu.

Foto Romi, Aku, dan Fani di depan pintu gerbang Bukit Pergasingan

Bukit Pergasingan (1600 mdpl) bisa dibilang merupakan bukit yang paling hits di zamannya. Konon saat itu kegiatan mendaki masih belum semasif sekarang. Mendaki hanyalah kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang penjelajah alam seperti ekskul pramuka ini. Sungguh hari itu menjadi unforgettable, meski pun aku lupa tanggalnya, tapi aku tidak akan pernah lupa perjuangan pertama sebagai pendaki pemula :v.

Baca Juga:  Pulang Kampung dengan Kapal DLN Oasis Rute Surabaya-Lombok

Bisa dibilang pada pendakian pertama inilah aku merasakan Lelah yang luar biasa Lelah. Pada waktu itu aku ibarat buta pada dunia pendakian. Aku baru menyadari kalau beban yang kupikul terlalu banyak dan berat untuk sekelas bukit. Sebatas ingatanku di kepala, aku membawa tiga jaket, selimut, tiga baju, tiga celana (Panjang-pendek), satu sarung, peralatan pendakian lainnya dan logistik—kebanyakan pakaian sudah kukenakan di tubuh, selain padat di tas. Intinya pendakian ke bukit ini seharusnya tidak sebanyak itu, ini peralatan setara Rinjani bisa dibilang. Bahkan aku yang ke Rinjani 2 dan 5 tahun kemudian tidak sampai segitunya hehe.

Ini adalah penampakan ratusan anak tangga saat start di Pergasingan

Tim Mendaki Paling Ramai Sepanjang Sejarah?

Oh iya gais, karena ini kegiatan organisasi, ini juga merupakan pendakian dengan orang terbanyak sepanjang sejarah hidupku! Kira-kira belasan orang-lah. Mirisnya kebanyakan dari teman pendakian kami adalah perempuan, yang mana fisiknya tentu tak sama dengan ‘kebanyakan’ laki-laki. Oleh karena itu, tak jarang, kami terpaksa menambah beban dari barang bawaan mereka. Padahal saat memulai saja beberapa di antara lelaki sudah membawa beban berat seperti tenda dan kayu bakar (ini aku hiks).

Kebayang enggak sih, harus membawa beban berat di tubuh, Pundak, dan telapak tangan harus menggandeng serenteng kayu bakar. Awal-awal sih masih aman, tetapi lama-kelamaan rasanya sangat melelahkan. Di sepanjang perjalanan kami banyak sekali istirahat sambil meratapi diri dan menatapi bentang alam.

  • Foto kiri atas: Fani di atas awan hiya
  • Foto kanan atas: aku yang pengen rebahan aja saking lelahnya
  • Foto kiri bawah: Ada Rinjani di balik awal gais.
  • Foto kanan bawah: Pasukan Muda Tria sedang beristirahat

Beristirahat juga Bagian dari Berjuang

Beristirahat adalah bagian dari perjuangan. Ada satu pesan yang disampaikan Kak Dhany, yang merupakan kakak paling senior yang ikut bersama kami. “Jika ingin beristirahat, istirahatlah dengan cara diam dalam posisi berdiri. Karena jika duduk kamu akan terlalu nyaman dan kelamaan diam.” Aku rasa itu benar, tetapi terkadang untuk tetap bisa melangkah, kaki juga butuh istirahat. Sesekali biarkan bokong yang menyangga tubuh.

Bila dibandingkan dengan Gunung Rinjani, Bukit Pergasingan masih terlalu rendah untuk bersaing. Namun, faktanya kami benar-benar terpuruk di bukit yang relative rendah ini. Dengan segala peluh dan perjuangan, rasanya ingin segera pulang. Namun, aku sadar kami sudah hampir sampai dan harus terus berlanjut—bahkan hingga malam menggulita.

Aku dan Fani dalam potret perjalanan malam, magriban di perjalanan

Beribadah di atas sana dengan angin yang lumayan kencang tidak justru menggoyahkan kami. Saya sendiri merasa itu adalah waktu paling tepat untuk bertaubat. Bayangkan saja jika kami harus mati di sini dan belum sempat memohon surga, akan tragis jadinya. Untungnya setelah berpuluh menit kami akhirnya tiba di basecamp pendakian Bukit Pergasingan. Tanpa berlama-lama gerombolan kami langsung membagi tugas. Adaa yang memasak, mendirikan tenda, dan tentunya ada yang menyiapkan api unggun.

Baca Juga:  Mengisi Semester 8 yang Senggang dengan Magang?

Momen memutari api unggun di Pergasingan

Api unggun benar-benar mampu mengubah hawa dingin menjadi penuh kehangatan. Selain itu canda dan tawa juga memenuhi suasana malam itu. Dari atas sini juga terlihat rasi bintang yang begitu memukai. Pun begitu menengok ke bawah, lampu orang-orang tampak jauh seolah-olah ada bintang di atas, ada bintang di bawah. Seberes makan, kami pun beristirahat untuk menyambut esok yang lebih cerah.

Pagi itu aku tidak ikut mengejar mentari, jadi foto samping tenda aja

Menyambut Pagi Hari, Menyapa Rinjani

Rasa Lelah dan kantuk karena pendakian semalam masih menyelimutiku hingga pagi. Akhirnya aku mager untuk ikut muncak bersama yang lain, padahal ya jaraknya dekat banget wkwk. Sungguh rasa malas bisa membuatmu membentuk banyak alasan lain yang memuakkan. Eh aku tambah satu alasan lagi deh, aku di bawah sini juga jagain tenda, kok. Bersama Ayik dan Kak Aan. Satu hal yang pasti, Rinjani tampak cantik sekali pagi itu. “Entah kapan bisa ke sana,” benakku dulu.

Setelah cukup lama menunggu bosan di sekitar basecamp, aku berniat menyusul teman-teman yang lain ke Puncak Pergasingan. Sayangnya di perjalanan ternyata mereka sudah akan Kembali. So, aku pun memutuskan untuk Kembali juga. Lagi pula pasti sesi foto akan terus berlanjut hingga di basecamp nanti, kapan-kapan gampanglah, dibalas ke sini lagi dengan persiapan yang lebih matang.

Sedikit view yang kudapatkan di perjalanan menuju Puncak Pergasingan

Menjelang pulang, lagi-lagi kami berfoto ria dengan menghadap perumahan penduduk. Bergaya seperti Kru Bajak Laut Topi Jerami saat meninggalkan Alabasta. Bedanya ini sangat ramai dan tidak ada tanda silang sebagai tanda pertemanan. Untuk saat itu, kami hanya berniat untuk mengabadikan momen betapa indahnya cara semesta membayar lelah kita. Pada akhirnya momen itu sangat berkesan dan tak pernah terlupakan, terimakasih Muda Tria.

Sedikit foto yang terabadikan (sebenernya banyak sih, tapi kebanyakan tidak layak, ini aja backlight :v)

2 Replies to “Bukit Pergasingan Sembalun: Pemanasan Sebelum ke Rinjani?”

  1. Hi, wah ternyata orang Lombok ya! Exited.
    Kalo engga salah, saya pernah mendengar nama bukit ini dari warga di rumah singgah saya.
    Ternyata dari bukit ini bisa lihat utuh Rinjani yah..waaah cantik sekali Rinjani memang :’))) sungguh pingin balik ke tanah Rinjani, semoga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *