Berkenalan dengan Konsep Minimalisme: Ruang Lebih Baik dari Barang

Aku penasaran dengan satu hal yang bisa membuatmu bahagia, apakah itu? Apakah baju baru, sepatu yang mahal, arloji yang mewah, ataukah dengan memiliki barang apapun yang kau inginkan? Hmm… Lantas bagaimana ketika barang-barang yang kamu inginkan itu sudah kamu miliki? Apakah perasaanmu lebih senang atau justru menyesal karena telah menghabiskan banyak uang.

minimalisme

Less is more, kebanggaan seorang minimalis (ilustrasi: Pixabay)

Perhatikan Barang di Sekitarmu

Coba lihat Kembali barang-barang yang telah kau beli di hari-hari spesial seperti harbolnas, 10.10 11.11 atau 12.12 kemarin. Apakah kamu masih mencintai barang-barang itu—barang yang sebenarnya hanya merupakan keinginan dan bukan kebutuhan? Barang yang niatnya tidak untuk dibeli tapi karena tergoda diskon jadi, “Beli aja deh,” katamu.

Ambil contoh paling sederhana aja, pakaian. Percayalah bahwa pakaian yang sekarang kamu miliki sudah lebih dari cukup. Pun jika kamu membuang separuh dari pakaian itu, kamu masih bisa hidup kan? Lalu untuk apa menambah beban di lemarimu? Atau tujuanmu sebenarnya adalah untuk bergaya dan memperlihatkan kemampuanmu di hadapan orang lain? Pamer di Instagram atau entahlah aku tak paham jalan pemikiranmu. Kalau itu endorse atau kamu seorang model ya tak mengapa.

Namun, jika itu hanya keinginan sesaat dan hanya untuk pamer, artinya kamu sudah masuk ke gaya hidup yang konsumtif. Dan ini adalah suatu hal yang berbahaya. Kamu tidak akan pernah puas dengan apa yang kamu miliki. Selalu berusaha untuk mendapatkan koleksi baru dari baju-baju dalam berbagai warna, sepatu dalam berbagai merk, atau tas dengan berbagai macam bentuk. Percayalah bahwa hal ini tidak akan ada habisnya.

kamar berantakan

Kamar yang berantakan karena terlalu banyak barang (sumber: Pixabay)

Baca Juga:  Jangan Pesimis Menghadapi Quarter Life Crisis

Ingatlah Bahwa Dunia Sedang Tidak Baik-baik Saja

Kawan, saat ini dunia sedang dilanda pandemi.  Krisis ekonomi dan resesi sudah berdampak pada hampir semua negara di dunia. Banyak orang di-PHK, banyak orang kesulitan mencari kerja. Melihat itu kamu masih saja seenaknya membelanjakan uang. Seolah tidak tahu bahwa banyak orang sedang banting tulang, berhutang demi makanan. Ayolah kawan, jangan begitu, ubahlah gaya hidupmu dengan yang lebih baik, minimalisme.

Begitu mendengar konsep minimalis, apa yang pertama kali terbayang dalam benakmu? Apakah rumah yang luas, putih bersih, serta properti mewah limited edition sehingga terkesan elit? Atau terbayang orang-orang terkaya di dunia dengan pakaian sederhana? Atau terbayang Raditya Dika yang menjual semua jam mewahnya dan merasa cukup dengan satu jam saja? Atau kamu mengira bahwa minimalis itu berarti hemat, terlalu hemat, bisa dibilang pelit untuk membeli atau memiliki sesuatu? Atau apa?

Jadi, bila berbicara tentang minimalisme, maka kita membicarakan aspek kehidupan yang sangat luas. Mulai dari apa yang kita beli, bagaimana kita menata lemari, dapur, rak buku, bahkan penataan terhadap smartphone kita sendiri. Singkatnya, minimalisme adalah menyingkirkan apa yang tidak dibutuhkan dan menyisakan apa yang masih berguna (menyisakan sesedikit mungkin). Kenapa harus disingkirkan, kenapa tidak disimpan saja… Siapa tahu suatu saat nanti dibutuhkan.

Menurutku ‘suatu saat nanti’ itu tidak akan datang. Kita ambil contoh pakaian lagi, baju deh. Kamu pasti punya baju yang sudah kusam, kekecilan, ada bolongnya atau intinya tidak layak pakai deh. Lantas kamu menyimpannya di lemari dan tidak pernah dipakai selama bertahun-tahun. “Siapa tahu nanti dibutuhkan,” katamu lagi. Namun kamu sadar bahwa ternyata kamu sudah tidak menggunakan baju itu selama bertahun-tahun. Perannya hanya memenuhi lemari dan memakan ruang, memakan tempat, memakan ruang, memakan tempat.

Baca Juga:  Jangan Pesimis Menghadapi Quarter Life Crisis

Kenapa aku terus mengulangi memakan ruang, memakan tempat? Karena percayalah ruang dan tempat yang kosong tidak kalah berharga, bahkan menurutku lebih berharga dari barang. Minimalisme memandang bahwa ruang lebih dari barang. Artinya jika kamu memenuhi lemari dengan barang (dalam hal ini baju) artinya kamu telah mengorbankan ruang—yang seharusnya lebih berharga.

kamar minimalis

Kamar yang tampak elegan karena minim barang, banyak ruang (sumber: Pixabay)

Ruang yang Lebih Banyak Daripada Barang 

Sekarang coba perhatikan lantai kamarmu. Apakah di sana kamu memberi ruang kosong, ataukah semuanya terisi dengan barang. Entah itu pakaian kotor, sampah makanan plastik, botol-botol bekas, sepatu, toples atau barang apapun deh. Aku yakin barang-barang ini tidak membuatnya estetik sama sekali, justru sangat menyesakkan hati dan pikiran bukan? Sekarang bayangkan jika barang-barang itu disingkirkan. Jangan dibayangkan deh, coba action, keluarkan semua barang itu dari kamar, tidak boleh ada barang yang bersentuhan langsung dengan lantai.

Sudah kamu lakukan? Apakah kamu merasa hati dan pikiranmu lebih tenang begitu melihat kamar yang tampak bersih, menyisakan ruang yang lebih banyak daripada barang? Bila kamu sudah sampai pada tahap ini, artinya pola pemikiranmu sudah mulai terbentuk, belum sepenuhnya terbentuk. Ingat! Setiap usaha yang kita lakukan tidak mungkin berhasil jika dikerjakan secara instan, pelan-pelan saja—perlahan, tapi pasti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *