Belajar Nyetir Mobil Dari Tak Ber-skill Sampai Berhasil

Hampir 10 tahun yang lalu atau sekitar kelas 1 Tsanawiyah, aku sudah bisa mengendarai kendaraan beroda dua. Waktu itu bapak mengajariku di Lapangan Bonar (lapangan olahraga di kelurahan tempat tinggalku). Selain itu, aku juga belajar dari kakak sepupuku, Kak Yadi. Jadi ilmu motor yang kumuliki selama ini bermula dari mereka berdua. Selama hampir sepuluh tahun ini pula aku sudah menyusuri ribuan kilometer dengan motor, entah itu motor matic, gigi, hingga kopling semua bisa kukendalikan. Yang jelas aku paling merasa aman dan nyaman ya kalo naik matic hehe.

Sepuluh tahun kemudian atau waktu sekarang, ketika berada di penghujung kuliah, akhirnya aku bisa upgrade: mengendarai mobil. Ya sebenarnya aku dan kakakku (Kak Nia) sudah dikenalkan pada teori dan praktik awal mobil oleh bapak sejak awal masuk kuliah. Tapi berhubung aku lebih banyak di Malang, dan karena merasa enggak butuh-butuh amat skill mobil—serta bapak yang sempat nge-drop setahun belakangan—akhirnya belajarnya jadi terus-terusan tertunda.

Untungnya kondisi bapak yang berangsur membaik memberi kami (aku dan kakakku) kesempatan untuk belajar lagi. Pada tahapan awal kami belajar di lapangan yang luas, panas, dan berdebu. Tahapan kedua kami hanya belajar di halaman rumah saja, memantapkan maju mundur bolak balik. Ketika dirasa sudah mantap kami pun diizinkan untuk turun ke jalan (bukan untuk demo). Pertama-tama ya jalan yang sepi dan datar dulu. Begitu tangan dan kaki sudah semakin lemas akhirnya kami diizinkan melalui lalu lalang yang ramai kendaraan.

Mulai Menempuh Jarak yang Lumayan

Kami berhenti dan berfoto di Jembatan Lungkak

Jembatan Lungkak terletak di daerah Lungkak, Lombok Timur bagian selatan. Bila berangkat dari Selong, kita melalui jalur Kelayu, Tanjung, Labuhan Haji, Rambang, Tanjung Luar baru sampai Lungkak, *cmiiw. Jalurnya sangat sepi, mulus sekaligus rusak banget di beberapa titik. Kalau yang kamu lihat di gambar di atas ini sepertinya jalan yang masih baru. Anyways waktu itu cuacanya panas banget, matahari seolah hanya beberapa kilometer saja dari kepala. Belum lagi kerongkongan yang super duper kering efek tidak makan dan minum dari subuh, huhu.

Sesampai kami di daerah Jerowaru, tepatnya di masjid yang tidak kutanyai namanya—supir berganti dari aku ke kakakku. Artinya titah mengemudiku sudah sukses dari start sampai setengah perjalanan tanpa menabrak atau menyerempet apapun. Sore menuju petang Kak Nia melanjutkan perjalanan menuju finish; rumah. Namun, adzan magrib memaksa kami untuk berhenti di pinggir jalan, menghilangkan sejenak dahaga yang sudah merajalela.

Stop di Alfamart untuk 3 kotak susu dan 3 buah roti

Begitu lapar dan haus melenyap, perjalan pun berlanjut. Satu hal yang pasti jika seseorang belajar mobil dari ayah/bapak-nya… adalah kena omel. Omelan adalah asupan wajib yang harus diterima dengan lapang oleh para pembelajar yang malang—tidak peduli seberapa keras ia berusaha, usahanya akan kalah dengan minimnya jam terbang. Namun, para bapack-bapack tidak peduli akan itu, wong larangan emosi di bulan puasa saja tak digubris.

Kalau boleh sombong nih ya, aku tu sudah lumayan mahir dalam mengemudi, sedangkan kakakku sebaliknya, belum begitu sempurna. Hal ini semakin membuat oksigen di dalam mobil tersisihkan oleh omelan-omelan yang justru semakin membuat tegang, “REM REM REM” “GAS GAS GAS” “GIGI 1 GIGI 2” “KOPLING KOPLING”. Untungnya suasana malam itu tidak semakin mencekam karena teriakan ambulans atau ibu-ibu bermotor sen kanan tapi belok kiri. Untungnya lagi kami selamat sampai rumah meski bermandikan keringat dingin.

Mencoba Mobil Lain dan Persiapan Mudik Lebaran

Mobil Carry (u/ latihan) – Mobil Avanza (u/ mudik)

Menjelang lebaran, aku dinobatkan gelar sudah bisa bermobil oleh Bapak, dipercayai untuk upgrade lagi! Fyi, sebelumnya kami belajar menggunakan mobil Carry bercat ungu yang kurasa enggak akan jadi masalah gede kalau nyerempet atau lecet. Sebaliknya ada satu mobil lagi, yang lebih mewah, mahal, nan kinclong yang kuyakini tak boleh menginjak semut ataupun menabrak lalat. Yaps, h-3 lebaran, untuk pertama kalinya aku menaiki kursi kemudi Avanza yang sebelumnya hanya diduduki pengemudi berjam terbang ribuan kilo… jalan yang kau tempuh.

Berhubung gelar ‘bisa bermobil’ sudah disematkan dalam diriku, maka Avanza Hitam ini tidak lagi menjadi tandingan. Gas, gigi, dan koplingnya jauh lebih ringan dan nyaman. Sedikit adaptasi dan pemantapan selama beberapa jam dirasa sudah cukup untuk meyakinkan diri bahwa aku sudah bisa dan berani membawa delapan kepala alias satu keluarga menuju Lingsar Lombok Barat. Turunan? Tinggal rem! Tanjakan tinggal gas! Macet? Pinter-pinter ngopling! Macet plus tanjakan? Maaf… jujur aku belum begitu siap untuk macet dan tanjakan!!! Sangat mengerikan begitu membayangkan diri terjebak macet di jalan yang menanjak—kamu tidak bisa maju ataupun mundur karena lalu lalang kendara pemudik dari berbagai arah. Saat hal seperti itu terjadi, kamu harus mampu menyeimbangkan ketiga pedal, gas-rem-kopling. Jika tidak, maka ada 3 kemungkinan; mobilmu menabrak yang di depan, mobilmu mundur menabrak yang di belakang, atau mobilmu akan mati mesin. However, kita tidak akan pernah tahu kalau kita tidak mencoba, kan? So, GAS!

Hari H Idul Fitri pun telah tiba. Aku harus bersiap mengendarai Avanza dengan jarak tempuh 1-2 jam perjalanan. Melewati jalan utama dan paling ramai sepanjang sejarah permudikan masyarakat Lombok. Nyawa satu keluarga ada di tanganku, “Bismillahirrohmanirrohim…” ucapku dalam hati. Selama beberapa kali di sepanjang jalan. Mulutku tidak ikut berdo’a lantaran sibuk berdebat dengan bapak perihal kecepatan, ketepatan perseneling, menekan klakson, dan lain sebagainya yang seharusnya sudah tidak diperlukan lagi. Selain itu, mamak juga ikut-ikutan mengatakan tidak bisa tidur karena aku yang menyetir. Hadu hadu haduuu… dikiranya aku masih amatir, padahal kan udah lumayan mahir, azzek. Just enjoy the journey, all!

Pada akhirnya perjalanan pergi-pulang alias mudik dari Pancor (kampungku) ke Lingsar (kampung nenek) berjalan lancar. Tidak ada lalat yang ditabrak atau pun semut yang terinjak. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah… BerkatMu aku bisa membanggakan diri dan tidak menjadi pembuhnuh serangga-serangga imut itu selamat dalam perjalanan kali ini. Kuharap perjalananku selanjutnya dan seterusnya bisa aman, nyaman, dan sentausa. Tidak seperti hubunganku dengan si dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *