Allostatic Load: Lelah Karena Puasa atau Lelah Karena Stres?

Setelah memasuki bulan puasa, rasa malasku entah bagaimana seperti menjalar ke mana-mana. Produktivitas menurun drastis, kebanyakan rebahan, sosmed, dan intinya serba unproductive banget. Huh… Meski demikian aku merasa capek banget padahal enggak ngapa-ngapain. Aku yakin alasannya bukan sekadar karena lapar dan dahaga itu sendiri, tetapi lebih ke tekanan mental, kondisi keuangan, tuntutan kuliah dan tugas-tugas.

Aku pun iseng-iseng nanya Google, “kenapa rebahan enak” dan yang muncul cukup banyak. Satu yang menarik jempolku untuk mengkliknya adalah artikel dari VICE berjudul, “Ternyata Ada Penjelasan Ilmiah Kenapa Kita Ngerasa Capek Padahal Ga Ngapa-ngapain” oleh Emily Baron Cadloff. Penjelasan kenapa kita merasa lelah padahal cuman rebahan adalah “allostatic load”, yang berarti kerusakan tubuh akibat terus menerus stres. Jadi meskipun kita hanya rebahan, ternyata rasa bersalah akibat rebahan alias ketidak-produktifan itulah yang membuat kita stres.

Lantas bagaimana mengatasinya? Menurutku ya dengan menyingkirkan si pemicu stres tadi: rebahan. Ya rebahan memang menyenangkan dan membuat candu. Tapi percayalah jika kamu berusaha bangkit dan melawan rasa ingin rebahan, maka kamu akan memenangkan hari itu. Kalo yang sering kulihat di platform self-development sih; jika kita memanangkan pagi hari, maka kita memenangkan hari itu. Untuk itu penting melatih diri dan men-set morning routine yang mengarahkan kita pada hal-hal positif.

Contohnya sekarang, untuk pertama kalinya sejak bulan puasa aku terbangun dari kasur dan berhasil mengetikkan 200an kata di jam 6 pagi. Ini merupakan pencapaian kecil yang luar biasa menyenangkan. Godaan berupa notifikasi smartphone dan empuknya kasur sudah kubunuh dengan menjauhi kedua benda itu. Yang membersamaiku saat ini hanya Microsoft word laptop dan headset yang bersuarakan white noise; audio badai selama satu jam. Begitu suara badai ini habis, maka itu sudah menjadi pencapaian pertamaku di hari ini dan aku harus merayakannya!

Baca Juga:  Persiapan Menghadapi Kesempatan yang Akan Datang

Tapi tapi… aku sadar bahwa hal seperti ini pasti akan terus tergerus hal tidak produktif, hmm. Lantas bagaimana agar bisa konsisten begini? Kalau kamu punya tips ampuh tolong kasitau di komentar yah! Jujur aja, memulai tidak terlalu sulit menurutku, yang sulit adalah mempertahankan apa yang sudah dimulai. Baru-baru ini ‘aku merasa kesal kenapa aku tidak kesal’ karena 5 kali bolos tarawih? Hah!? Pahami sendiri ya wkwk, rasa malasku semakin mendominasi. Intinya sih, menurutku, jika kita sudah terjebak pada suatu kebiasaan, maka kita akan terus berada di sana hingga kebiasaan itu menjadi sebuah identitas.

Misal aku, 10 malam pertama Ramadhan aku selalu pergi tarawih ke masjid. Sebab itu aku dikira orang yang alim (identitas terbentuk) dan akan menjadi beban ketika aku tidak pergi. Sebaliknya jika aku tidak pergi tarawih ke masjid, maka identitas yang terbentuk adalah aku seorang pemalas. Dan cap pemalas itu membuatku benar-benar malas. So, hal yang perlu kulakukan adalah mengubah kebiasaan buruk menjadi baik, sehingga terbentuk identitas positif dan bukan sebaliknya; negatif.

Btw, aku sudah menuliskan sekitar 400an kata dan aku harus mengapresiasi ini. Tepuk tangan untukku, yeyyy! Berdasarkan catatan komunitas 1 Minggu 1 Cerita nih, aku sudah bolos nulis selama 4 minggu! Gilek enggak? Padahal aktivitas menulis adalah hal yang yaaa enggak gampang sih wkwkk. Intinya aku merasakan kengawuran pada artikelku yang saat ini kalian baca. Benar-benar tanpa konsep tanpa rencana. Tujuanku hanya satu; untuk membangun kembali kebiasaan menulis. Jadi maafkeun kalau rada-rada ngawur.

Dan jujur pada penulisan 100 kata terakhir di artikel ini aku senyam-senyum sendiri padahal cuman menulis. Oh… energiku seperti terisi Kembali dan aku bisa menyelesaikan tanggung jawab dan tugas yang sudah aku tinggalkan selama 2/3 pekan ini (skripsian dan magang). Maaf ya Pak Dospem, Kak Mentor, dan teman-teman timku. Aku janji akan kembali dengan energi yang lebih bisa diandalkan dari sebelumnya. Puasa tidak akan kujadikan lagi alasan untuk bermalas-malasan.

Baca Juga:  Jangan Pesimis Menghadapi Quarter Life Crisis

Oh ya untuk menutup tulisan ini, aku ingin berterimakasih pada diri sendiri, Agam Ray Waladi karena sudah berusaha melawan rasa malasnya. Sulit memang menghadapinya, tapi aku yakin kita bisa, yuk bisa yuk. Heheh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *